IEA akan Lepas 400 Juta Barel Minyak untuk Atasi Disrupsi Akibat Perang Iran
Badan Energi Internasional (IEA) menyetujui pelepasan cadangan sebesar 400 juta barel minyak untuk mengatasi gangguan pasokan yang dipicu oleh perang di Iran, langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
IEA tidak menetapkan jadwal kapan cadangan minyak tersebut akan dilepaskan ke pasar. Organisasi tersebut menyatakan cadangan akan dilepaskan dalam jangka waktu yang sesuai dengan kondisi masing-masing dari 32 negara anggotanya.
Anggota IEA sebagian besar merupakan negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini bertugas menjaga keamanan energi global. IEA didirikan pada 1974 sebagai respons terhadap embargo minyak yang diberlakukan oleh produsen Arab atas dukungan AS terhadap Israel selama Perang Arab-Israel 1973.
“Konflik di Timur Tengah memiliki dampak signifikan pada pasar minyak dan gas global, dengan implikasi besar bagi keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi global terkait minyak,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam pernyataan yang disiarkan dari markas besar organisasi di Paris, seperti dikutip CNBC, Rabu (11/3).
“Saya dapat mengumumkan negara-negara anggota IEA telah secara bulat memutuskan untuk meluncurkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga kami,” kata Birol.
Negara-negara anggota IEA saat ini menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan tambahan 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.
Kepala IEA mengatakan pelepasan ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Namun, Birol mengatakan lalu lintas tanker harus kembali beroperasi melalui Selat Hormuz untuk mengembalikan aliran minyak dan gas yang stabil ke pasar global.
Selat Hormuz adalah koridor maritim sempit di lepas pantai Iran yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global biasanya melewati selat ini. Lalu lintas tanker melalui selat tersebut telah terhenti total karena pengirim barang khawatir akan serangan dari Iran.
Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negara itu bermaksud untuk melepaskan cadangan minyak dari cadangan nasionalnya paling cepat minggu depan, dengan alasan "tingkat ketergantungan yang sangat tinggi" pada Timur Tengah.
Gangguan Pasokan Terbesar Sepanjang Sejarah
Penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis dari perusahaan konsultan Rapidan Energy Group dan Wood Mackenzie.
Analis energi memperingatkan sebelum pelepasan tersebut bahwa bahkan kemampuan penarikan maksimum IEA kemungkinan tidak akan mampu mengimbangi hampir 20 juta barel per hari yang biasanya melewati selat tersebut.
Birol menggambarkan situasi yang mengerikan. Produsen Timur Tengah mengurangi produksi dan operasi kilang terganggu dengan implikasi besar bagi pasokan bahan bakar diesel dan jet khususnya. Serangan Iran terus merusak energi dan infrastruktur terkait energi di Timur Tengah.
Pasokan gas alam cair (LNG) global telah berkurang sebesar 20%, memaksa negara-negara berpenghasilan tinggi di Asia untuk bersaing dengan Eropa memperebutkan kargo yang tersedia. LNG adalah bentuk gas alam yang didinginkan menjadi cairan sehingga dapat dimuat ke kapal tanker untuk diekspor. Gas alam digunakan untuk produksi listrik dan pemanasan rumah di seluruh dunia.
Harga minyak sangat fluktuatif sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari, dengan patokan global minyak mentah Brent melonjak hingga hampir US$ 120 per barel pada awal pekan, sebelum turun kembali ke sekitar US$ 90.
