Pemulihan Buntut Saling Serang Fasilitas Energi Timur Tengah Bisa Menahun

Ajeng Dwita Ayuningtyas
20 Maret 2026, 09:29
Massa aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil membawa poster saat aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (6/3/2026). Dalam aksinya, mereka mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasiona
ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Massa aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sipil membawa poster saat aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (6/3/2026). Dalam aksinya, mereka mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional dan kedamaian dunia serta meminta pemerintah untuk mengevaluasi kesepakatan Indonesia dalam piagam Board of Peace (BoP) karena dianggap tidak sesuai yang dimandatkan Dewan Keamanan PBB 2803.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Serangan demi serangan terus menyasar fasilitas energi di Timur Tengah. Serangan-serangan ini berpotensi membuat dampak ekonomi akibat kehilangan produksi energi berlangsung bertahun-tahun.

Awal pekan ini, Selasa (17/3), serangan drone Iran telah menghentikan operasional ladang gas Shah, Uni Emirat Arab (UEA). Lokasi yang menghasilkan sekitar 1,28 miliar kaki kubik gas per hari ini, memasok 20% gas ke UEA dan 5% sulfur granula dunia yang dipakai untuk produksi pupuk fosfat.

Sehari setelahnya, ladang gas South Pars milik Iran dan Qatar diserang Israel atas persetujuan Amerika Serikat (AS) pada Rabu (18/3). Ladang gas ini merupakan yang terbesar di dunia dan sumber energi domestik terbesar di Iran. 

Iran kemudian memberi serangan balasan terhadap fasilitas gas alam cair (LNG) raksasa Ras Laffan di Qatar. Qatar merupakan produsen LNG terbesar di dunia dan Ras Laffan adalah pusat eksportir LNG terbesar dunia.

Harga gas pun melonjak, memicu peringatan keras mengenai dampak saling serang fasilitas enerrgi terhadap ekonomi global. Di Eropa, harga gas bahkan melonjak hingga 35%. 

Selain itu, Iran turut menyerang kilang minyak Arab Saudi di Laut Merah, serta menyebabkan kebakaran di dua kilang di Kuwait. 

Direktur Centre for Russia Europe Asia Studies Theresa Fallon, melalui akun X, menandai serangan terhadap pusat operasi Qatar sebagai eskalasi signifikan perang Timur Tengah. Dampak ekonomi akibat serangan tersebut mungkin bisa berlangsung selama bertahun-tahun. 

Pertempuran membuat distribusi minyak dan gas terhenti, lalu kembali dalam beberapa bulan. Akan tetapi, kerusakan signifikan pada infrastruktur produksi bisa berdampak lebih lama. 

Masih mengutip The Guardian, bila belajar dari invasi Irak 2003 yang dilakukan AS dan sekutunya, perbaikan infrastruktur produksi energi membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. 

Pemerintahan AS saat itu berjanji, rekonstruksi didanai dari pendapatan minyak. Tetapi, perbaikan pabrik-pabrik Irak yang menghabiskan US$2 miliar itu butuh waktu lebih dari dua tahun agar kembali ke level sebelum serangan. 

Produksi Energi Lebih dari Urusan Ekonomi

Produksi energi di kawasan Teluk lebih dari persoalan keuntungan ekonomi, melainkan bagian dari kepentingan sosial, politik, dan diplomatik. Kehidupan sosial di negara-negara tersebut didasarkan pada pembagian kekayaan energi. Ini penting untuk tingkat kesejahteraan masyarakat dan kemampuan negara untuk menarik tenaga kerja asing. 

Di samping itu, energi adalah bagian integral negara-negara Teluk dalam berdiplomasi. Misalnya, Arab Saudi dan Iran sempat berdamai usai serangan AS-Israel pada fasilitas nuklir Iran tahun lalu.

Pihak Saudi menilai kedamaian penting karena ketegangan kedua negara telah menguras sumber daya mereka. Di sisi lain, Iran mendukung hubungan damai tersebut didorong perekonomian yang perlahan runtuh akibat sanksi dari AS.

Secara historis, Qatar yang juga sekutu AS lebih dekat dengan Iran karena kepentingan bersama di ladang South Pars. Kecemasan Qatar atas serangan itu sangat terasa. South Pars seringkali berperan sebagai jembatan diplomatik Doha, Teheran, dan pihak-pihak lebih luas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Reza Pahlevi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...