Harga Minyak Turun di Bawah US$ 100 Per Barel di Tengah Kabar Negosiasi AS-Iran

Mela Syaharani
25 Maret 2026, 09:03
Ilustrasi stok minyak mentah, ketahanan energi.
Vecteezy.com/Uriel Eichenbaum
Ilustrasi stok minyak mentah, ketahanan energi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia turun akibat laporan adanya upaya diplomatik Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang dengan Iran pada Rabu (25/3). Harga minyak menurun meski di saat yang sama AS juga mengirimkan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent turun 4,3% menjadi US$ 99,99 per barel pada pagi ini. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate turun 4,1% menjadi US$ 88,61 per barel.

AS sedang mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan. Negara yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump ini telah mengirimkan 15 poin rencana kepada Iran untuk mengakhiri peran tersebut.

“Trump tampaknya sedang mengupayakan negosiasi serius dengan Iran, sambil tetap membuka berbagai kemungkinan,” kata peneliti senior di Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Will Todman dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/3). 

Todman mengatakan belum jelas tujuan pengiriman pasukan tambahan tersebut, apakah untuk strategi negosiasi atau persiapan invasi.

Harga minyak dunia terus melonjak secara bulanan dalam jumlah yang signifikan seiring dengan para investor memantau dampak perang Iran, AS, dan Israel. Perang tersebut sudah memasuki pekan keempat sejak meletus pada akhir Februari 2026.

Perang ini telah membuat Iran memblokade Selat Hormuz, rute vital pengiriman migas dari Teluk Persia ke pasar global. Ditutupnya selat ini menghambat pengiriman pasokan migas yang memicu kekhawatiran krisis energi.

Iran sebelumnya telah mengizinkan kapal asing melintas di selat tersebut selama tidak mendukung tindakan agresi dan mematuhi peraturan yang ditetapkan.

Harga produk turunan minyak bumi telah melonjak tajam dibandingkan minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir. Di AS, harga rata-rata solar secara nasional telah naik di atas US$ 5 per galon, mencapai level tertinggi sejak akhir 2022. Di California, bahan bakar yang digunakan untuk angkutan truk, konstruksi, dan pertanian juga naik melampaui US$ 7 per galon.

Di Australia, ratusan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) telah melaporkan kekurangan pasokan bahan bakar. Setidaknya 600 lokasi ritel kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar, kata Menteri Energi Chris Bowen kepada parlemen pada Selasa,. Kekurangan pasokan BBM ini terkonsentrasi di dua negara bagian terpadat, yakni New South Wales dan Victoria.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...