Pemerintah Kebut Bioetanol 20% untuk Kurangi Impor Energi

Kamila Meilina
31 Maret 2026, 09:02
bioetanol, etanol, bbm
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Asaya, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar campuran bensin atau E20 guna mengurangi ketergantungan energi impor di tengah kondisi geopolitik global yang memanas. 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pengembangan bioetanol merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk mempercepat hilirisasi, khususnya di sektor pertanian dan energi.

“Yang pertama untuk sektor pertanian, hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat.,” ujar Amran dalam siaran pers di Jakarta, dikutip dari YouTube Kementan, Senin (30/3).

Menurutnya, pemerintah saat ini mendorong percepatan biofuel karena situasi geopolitik global yang tidak stabil menuntut Indonesia mengambil langkah cepat untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Kebijakan ini menurutnya sudah dirancang bahkan sebelum gejolak geopolitik global terjadi sebagai bagian dari upaya mengurangi beban impor energi.

Program biodiesel sebelumnya telah berjalan B40 melalui campuran 40% minyak sawit dan 60% solar fosil. Skema ini diklaim telah menekan impor solar. Pemerintah kemudian berencana meningkatkan campuran itu menjadi B50. 

Target selanjutnya, pengembangan bioetanol E20, yaitu bensin yang dicampur etanol sebesar 20%. Bahan baku etanol direncanakan berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, singkong, dan tebu.

“Etanol campuran bensin 20%. Dari mana? Jagung, ubi, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” ujar Amran.

Program E20 ini menurutnya diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi impor bahan bakar sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertanian melalui hilirisasi.

Pemerintah menargetkan Indonesia dapat mengikuti jejak Brasil yang telah lebih dulu menerapkan campuran etanol tinggi pada bahan bakar, seperti E27 hingga E37.

Amran menjelaskan, pemerintah memiliki dua target besar, yaitu mandiri pangan dan mandiri energi. Untuk sektor pangan, pemerintah mengklaim stok beras nasional saat ini mencapai 4,3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan diperkirakan meningkat menjadi 5 juta ton pada bulan depan.

“Tahun lalu maksimal 4,2 juta ton. Hari ini 4,3 juta ton. Bulan depan 5 juta ton," katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...