Strategi Pemerintah Buru Pasokan LPG, Impor dan Alihkan Pasokan Industri
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah tengah memburu pasokan liquefied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan masyarakat. Hal ini dilakukan melalui pencarian sumber pasokan baik dari produksi dalam negeri (domestik) maupun impor.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, pemenuhan kebutuhan LPG subsidi bagi masyarakat sangat dibutuhkan.
“Kami sedang melakukan hunting (pencarian) pasokan LPG baik impor maupun produksi domestik. LPG yang dijual ke industri juga diupayakan dialihkan untuk kebutuhan LPG subsidi,” kata Rizwi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII, Rabu (8/4).
Tak hanya itu, guna memenuhi kebutuhan masyarakat pemerintah juga menginstruksikan kepada kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran hasil produksi ke Pertamina Patra Niaga (PPN).
“Jadi, yang tadinya produksi mereka itu dijual kepada industri, tapi kami mengusulkan agar prioritas ditawarkan ke PPN untuk kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah saat ini juga memutuskan untuk mengurangi jumlah produksi polipropilena di Kilang Pertamina Balikpapan. Bahan baku pembuatan nafta juga direlokasi untuk menambah stok produk LPG agar pasokan nasional bisa diperkuat.
Selain itu, dia menyebut Indonesia saat ini juga mencari pasokan baru baik dari negara-negara di benua Asia ataupun di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data Kementerian ESDM, sebanyak 80,58% kebutuhan LPG Indonesia dipenuhi melalui impor pada 2025.
“Hingga Februari 2026, ketergantungan impor LPG meningkat menjadi 83,97% dari total kebutuhan,” katanya.
Pada 2025 jumlah kebutuhan LPG nasional tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari. Angka ini bertambah menjadi 26.000 metrik ton per hari hingga akhir Februari lalu.
Ia mengatakan dominasi impor dalam pemenuhan kebutuhan LPG nasional dilatarbelakangi oleh jumlah produksi dalam negeri yang masih rendah.
Kondisi tersebut diperparah oleh perang Timur Tengah yang membuat sebagian besar akses Selat Hormuz tertutup. Padahal, porsi impor LPG Indonesia didominasi dari kawasan tersebut.
Data Negara Asal Impor LPG
Berikut ini data negara asal impor LPG 2025 dan 2026:
2025
- Amerika Serikat 70,0%
- Uni Emirat Arab 11,88%
- Qatar 11,84%
- Kuwait 2,43%
- Saudi Arabia 1,71%
- Bahrain 1,38%
- Australia 0,62%
- Malaysia 0,08%
2026 hingga 1 April
- Amerika Serikat 68,91%
- Uni Emirat Arab 11,83%
- Saudi Arabia 7,36%
- Qatar 5,21%
- Australia 3,91%
- Kuwait 2,61%
- Cina 0,17%
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebelumnya menyebut rata-rata ketahanan stok LPG atau elpiji mencapai 11,6 hari atau 10-13 hari selama periode Ramadan Idulfitri tahun ini.
Ketahanan ini terhitung sejak tanggal 12 sampai dengan 31 Maret 2026 atau 20 hari Posko ESDM periode Ramadan dan Idulfitri 2026 sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 116.K/HK.02/MEM.S/2026.
“Penyaluran rata-rata LPG pada periode posko ini 34.206 metrik ton atau naik sebesar 6,5% dari rerata normal,” kata Anggota Komite BPH Migas Erika Retnowati dalam penutupan posko ESDM 2026, pada 31 Maret lalu.
