Harga Minyak Dunia Kembali Dekati US$ 100 per Barel Setelah Turun 13%
Harga minyak dunia kembali naik mendekati US$ 100 per barel setelah mengalami penurunan 13%, terbesar sejak April 2020. Kondisi geopolitik Timur Tengah masih cukup memanas sebab terjadi serangan Israel ke Lebanon, serta sebagian wilayah Selat Hormuz yang saat ini masih belum bisa diakses.
Harga Brent naik 2,1% menjadi US$ 96,73 per barel pada awal perdagangan Kamis (9/4). Sementara itu harga West Texas Intermediate naik 2,7% menjadi US$ 96,99 per barel.
Kantor berita Fars asal Iran melaporkan bahwa pelayaran kapal tanker minyak melalui selat tersebut berhenti setelah serangan Israel. Namun, Wakil Presiden AS JD Vance membantah pernyataan tersebut. “Kami melihat tanda-tanda bahwa selat mulai dibuka kembali,” kata Vance dikutip dari Bloomberg, Kamis (9/4).
Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia. Rute ini menjadi jalan penghubung antara produksi migas di Teluk Persia ke pasar global. Seperlima pasokan migas dunia melalui selat ini.
Akses selat ini ditutup Iran sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Hal ini menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak.
“Situasi (perang) ini belum berakhir, kita perlu melihat pembukaan akses selat tanpa hambatan dengan harga minyak turun menjadi US$ 80 per barel. Saya tidak melihat hal tersebut akan terjadi dalam dua minggu ke depan,” kata senior vice president trading di BOK Financial Securities Inc. Dennis Kissler.
Meski dalam kondisi gencatan senjata, perang Timur Tengah tetap berlangsung karena langkah militer Israel di Lebanon. Terdapat perbedaan pandangan antara Iran dan pihak AS-Israel terkait gencatan mencakup Lebanon atau tidak.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf mengatakan dalam pernyataan yang diunggah di X bahwa tiga klausul dalam proposal gencatan senjata sejauh ini telah dilanggar.
Sementara itu, Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran mengumumkan dua jalur aman yang ditetapkan bagi kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz. Jalur tersebut dibuat untuk menghindari ranjau laut anti-kapal.
Bloomberg menulis, meski lalu lintas di Hormuz kembali meningkat, pemulihan pasokan energi tidak akan terjadi secara instan. Produksi di ladang minyak dan gas telah dikurangi, sementara kilang membatasi produksi atau bahkan menghentikan operasional. Beberapa di antaranya membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan lebih lama untuk kembali normal.
“Kita masih jauh dari selesai di Iran. Setiap hari masih penuh ketidakpastian, tetapi harga minyak US $90 tampaknya menjadi batas bawah yang kuat,” analis minyak dan gas di Enverus, Carl Larry.
