Harga Minyak dan Gas Melonjak Usai AS Sita Kapal Kargo Iran

Mela Syaharani
20 April 2026, 08:08
harga minyak, iran, amerika serikat
Vecteezy.com/Fahim Hamim
Ilustrasi kenaikan harga minyak. Iran memperingatkan harga minyak dunia bisa tembus US$ 200 per barel seiring dengan penutupan Selat Hormuz dan intensitas serangan Iran terhadap kapal-kapal asing di perairan Teluk Persia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia dan gas bumi Eropa melonjak usai Angkatan Laut AS menyita sebuah kapal Iran pada Minggu (19/4). Penyitaan dilakukan ketika Iran menembaki kapal-kapal dan kembali memberlakukan kontrol di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent naik 5,8% menjadi US$95,65 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate melonjak 7,0% menjadi US$89,75 per barel. Adapun untuk harga gas Eropa naik 11%.

Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (16/4), namun aksesnya kembali ditutup setelah blokade AS terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Iran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata. 

Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal tersebut di Teluk Oman setelah kapal itu tidak mengindahkan peringatan untuk berhenti saat meninggalkan Selat Hormuz. Ini menjadi insiden besar pertama dalam blokade yang telah berlangsung sepekan. 

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam setelah tarik-ulur terkait potensi perundingan damai di Islamabad. Trump mengatakan dirinya melihat peluang kesepakatan, sementara pihak Iran menilai belum ada prospek yang jelas untuk mencapai perjanjian.

“Jika situasi berlanjut seperti sekarang, kemungkinan harga akan naik bertahap ke kisaran US$105–US$115, tetapi dengan fluktuasi akibat berbagai perkembangan berita,” kata Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP di Chicago, Haris Khurshid dikutip dari Bloomberg, Senin (20/4).

Selat Hormuz merupakan rute vital perdagangan yang mengangkut sekitar seperlima pasokan migas dunia, jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Iran menutup selat tersebut saat meletusnya perang pada akhir Februari.

Akses yang kembali tertutup berpotensi memperdalam krisis energi global dan menggagalkan prediksi Trump bahwa perang akan segera berakhir. Jalur ini hanya salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk nuklir Iran dan invasi Israel yang masih berlangsung di Lebanon.

Berdasarkan data pelacakan yang dihimpun Bloomberg, tidak ada pergerakan kapal yang terpantau melintasi Selat Hormuz pada Minggu (19/4). Setidaknya 13 kapal tanker minyak berbalik arah menuju Teluk Persia serta membatalkan upaya mereka untuk keluar dari perairan tersebut.

Konflik ini memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya, meningkatkan tekanan inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi global.

Dampak kumulatif perang terhadap ekonomi dunia mulai terlihat pekan ini, dengan survei bisnis dari berbagai negara berpotensi mengindikasikan risiko stagflasi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...