Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Dua Pekan, Imbas Harapan Damai AS-Iran

Kamila Meilina
25 Mei 2026, 12:49
harga minyak, Iran, AS
REUTERS/Stringer
Harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

Kontrak berjangka minyak Brent turun US$4,71 atau 4,55% menjadi US$98,83 per barel pada Minggu (24/5) pukul 22.34 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot US$4,57 atau 4,73% menjadi US$92,03 per barel.

Kedua kontrak itu sempat menyentuh level terendah sejak 7 Mei 2026 pada awal sesi perdagangan.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu lalu menyatakan Washington dan Teheran telah merundingkan nota kesepahaman terkait perjanjian damai. 

Kesepakatan itu diyakini bisa membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum konflik berlangsung menampung sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Meski demikian, negosiasi kedua negara masih menghadapi sejumlah perbedaan mendasar. Trump pada sempat mengatakan dirinya telah meminta tim perunding Amerika Serikat agar tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran.

Berbagai Risiko Membayangi

Analis MST Marquee, Saul Kavonic, menilai perkembangan negosiasi tersebut mulai memberikan harapan bagi pasar energi global meski berbagai risiko masih membayangi.

"Terlepas dari berbagai syarat dan risiko yang masih menyertai kesepakatan damai serta pembukaan Selat Hormuz, kini mulai terlihat titik terang yang dapat memberikan kelegaan bagi harga minyak dalam jangka pendek," ujar Kavonic, dikutip dari Reuters (25/5).

Kendati demikian, para analis memperkirakan proses normalisasi pasokan energi dari kawasan Timur Tengah tidak akan berlangsung cepat. Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal.

Selain itu, sejumlah fasilitas minyak dan gas yang terdampak konflik juga memerlukan waktu perbaikan sebelum dapat kembali beroperasi secara penuh.

Kondisi tersebut membuat pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, mengingat setiap kemajuan maupun hambatan dalam proses perdamaian dapat memengaruhi prospek pasokan minyak global dan pergerakan harga energi ke depan.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...