Harga Minyak Dunia Naik 3% Usai Serangan Balasan Israel atas Rudal Iran
Harga minyak acuan dunia melonjak usai serangan Israel terhadap target-target militer Iran. Hal ini merupakan balasan dari serangan Iran atas tembakan rudal ke Israel. Iran menyebut serangan ini untuk menghentikan peperangan Israel di Lebanon.
Aksi saling serang ini mengancam berlangsungnya gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah, saat proses perundingan AS dan Iran mengalami kebuntuan.
Harga minyak Brent naik 3% menjadi US$ 95,92 per barel pada pukul 09.56 pagi di Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate melonjak 3,1% menjadi US$ 93,32 per barel.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan setelah serangan Israel, serta mengkritik Israel karena sebelumnya menyerang Beirut. Secara terpisah, Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya akan menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak melakukan pembalasan.
Dalam sepekan terakhir, eskalasi permusuhan kembali meningkat di Timur Tengah dan mengancam keberadaan gencatan senjata sekaligus mempersulit negosiasi untuk mengakhiri perang. Konflik tersebut menyebabkan aktivitas Selat Hormuz nyaris ditutup, sehingga menghambat pasokan minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam ke konsumen global.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan eskalasi perang akhir pekan ini antara Israel dan Iran sekali lagi menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata di sana.
“Meningkatnya permusuhan memperbesar risiko geopolitik, bahwa selat tersebut bisa ditutup lebih lama dari perkiraan, sekaligus meningkatkan kemungkinan Iran mengambil langkah tambahan untuk membatasi pelayaran di Laut Merah,” kata Lipow seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (8/6).
Kemarin, Komando Pusat AS mengatakan pihaknya menembak jatuh dua drone serang Iran yang mengancam lalu lintas maritim internasional di Hormuz. Hal itu terjadi setelah enam rudal balistik ditembakkan ke Bahrain dan Kuwait pada Jumat. Rudal-rudal tersebut berhasil dicegat, sementara AS menyerang lokasi radar pengawas pantai Iran.
Trump Bakal Menentukan Keberhasilan Negosiasi Damai
Sejumlah hambatan masih mengganjal kemajuan kesepakatan damai, termasuk gencatan senjata paralel antara Israel dan Lebanon. Iran menuntut adanya gencatan senjata di sana sebelum kesepakatan dapat dicapai, dan seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei baru-baru ini mengatakan bahwa bola sekarang ada di tangan Trump.
Presiden AS itu mengatakan kepada Financial Times bahwa mitranya dari Israel harus menerima kesepakatan apa pun yang dicapai AS dengan Iran. “Saya yang menentukan semuanya. Netanyahu bukan pihak yang menentukan,” kata Trump.
Pekan lalu, Israel dan Lebanon sepakat melakukan gencatan senjata yang bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah, namun kelompok milisi yang didukung Iran itu menolak gencatan senjata tersebut. Pertempuran antara pasukan Israel dan Hizbullah terus berlanjut sepanjang akhir pekan.
Secara terpisah, organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat kembali menaikkan kuota produksi minyak mereka untuk Juli sebesar 188.000 barel per hari, meski hambatan ekspor dari Teluk Persia membuat sebagian besar anggota belum dapat merealisasikannya.
