Harga Pertamax Belum Tentu Turun Meskipun Harga Minyak Dunia Melemah

Mela Syaharani
23 Juni 2026, 17:36
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax ke tangki sepeda motor di SPBU Batu Anteru, Ternate, Maluku Utara, Rabu (10/6/2026). PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Maluku Utara dari Rp12.600 menj
ANTARA FOTO/Andri Saputra/nz
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax ke tangki sepeda motor di SPBU Batu Anteru, Ternate, Maluku Utara, Rabu (10/6/2026). PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Maluku Utara dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter yang berlaku mulai 10 Juni pukul 00.00 WIT, sementara harga BBM subsidi jenis Pertalite tetap Rp10.000 per liter.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamax belum tentu turun pada awal bulan depan, meski ada peluang karena harga minyak dunia mulai turun. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti harga rata-rata hingga kurs rupiah.

Minyak acuan Brent kini harganya sudah di bawah US$ 80 setelah dimulainya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harga juga turun karena jalur pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz mulai pulih perlahan.

“Kondisi ini memberi ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi. Akan tetapi, keputusan harga Pertamax tidak hanya mengikuti harga minyak harian, Pertamina biasanya melihat rata-rata harga minyak dan produk olahan dalam periode tertentu, kurs rupiah, biaya distribusi, stok, serta strategi stabilisasi harga,” kata Syafruddin kepada Katadata, Selasa (23/6).

Dia menyebut saat ini nilai tukar rupiah atau kurs masih berada di sekitar Rp 17.860 per dolar AS. Nilai tersebut juga turut menahan ruang penurunan. 

Artinya, penurunan harga minyak dunia memang memperbesar peluang Pertamax turun, tetapi keputusan awal Juli masih bergantung pada konsistensi harga minyak sampai akhir Juni dan arah rupiah. 

“Jika Brent bertahan di bawah US$ 80 dan rupiah tidak melemah lebih jauh, penurunan harga Pertamax pada awal Juli masuk akal. Jika rupiah tetap tertekan atau harga minyak kembali naik akibat risiko Hormuz dan stok minyak AS yang ketat, penyesuaian bisa mundur atau hanya turun terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, kurs rupiah sangat penting diperhatikan karena impor minyak dan produk BBM dibayar dalam dolar. Ketika rupiah melemah ke sekitar Rp17.860 per dolar AS, ruang penurunan harga domestik ikut menyempit. 

Faktor lain yang juga harus dicermati adalah biaya logistik antar daerah, persediaan, persaingan antar penjual BBM non-subsidi, serta keputusan korporasi untuk menjaga stabilitas harga agar tidak terlalu sering berubah. 

“Dalam konteks sekarang, parameter paling kritis adalah kombinasi Brent di bawah US$ 80 dan rupiah yang stabil. Jika dua faktor ini bergerak positif secara bersamaan, harga Pertamax punya alasan kuat untuk turun,” ucapnya.

Tidak Otomatis Turun

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga mengatakan penurunan harga Pertamax belum tentu terjadi pada awal Juli mendatang. Meskipun ada peluang yang terbuka dan mengarah pada penurunan.

“Karena adanya jeda dalam mekanisme perhitungan, saya melihat awal Juli lebih realistis untuk penurunan yang terbatas atau bahkan harga masih bertahan, tergantung hasil rata-rata harga acuan dan perkembangan nilai tukar rupiah,” katanya kepada Katadata, Selasa (23/6).

Menurut Yusuf perlu dipahami bahwa harga BBM non-subsidi seperti Pertamax tidak mengikuti harga minyak harian, melainkan menggunakan rata-rata harga acuan dalam periode tertentu. Karena itu, dia melihat harga yang berlaku hari ini masih merefleksikan periode ketika harga minyak sempat melonjak akibat perang dan gangguan pasokan global.

Atas dasar itu, dia menyebut tren pelemahan harga minyak saat ini memang menjadi prasyarat penting untuk penurunan Pertamax, tetapi belum otomatis menurunkan harga dalam waktu dekat. 

Dia mengatakan perlu memastikan apakah penurunan tersebut cukup konsisten sehingga menekan rata-rata harga acuan yang digunakan dalam formula penetapan BBM. Jika pelemahan hanya terjadi dalam waktu singkat, dampaknya ke harga eceran akan terbatas. Sebaliknya, jika harga minyak bertahan lebih rendah sepanjang beberapa minggu hingga satu atau dua bulan ke depan, peluang penyesuaian turun akan semakin besar.

“Penurunan yang lebih terasa justru berpeluang muncul pada periode berikutnya apabila tren pelemahan harga energi global berlanjut dan tidak terjadi gangguan pasokan baru yang mendorong harga kembali naik,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...