Kementerian ESDM Sebut Ada Potensi Harga LNG untuk Industri Turun

Mela Syaharani
26 Juni 2026, 14:18
harga, harga gas, industri, HGBT, LNG
ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/nz
Dua petugas memeriksa jaringan distribusi pipa gas di PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) di kawasan Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (28/7/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut ada peluang harga regasifikasi gas alam cair (LNG) untuk sektor industri turun seiring dengan evaluasi yang dilakukan pemerintah. Asosiasi dan Forum Industri sebelumnya mengatakan pelaku industri dikenai tarif regasifikasi gas alam cair (LNG) sebesar US$ 20 per MMBTU, lebih tinggi dibandingkan dengan harga HGBT sebesar US$ 7 per MMBTU.

“Ada potensi seperti itu (turun), karena kemarin sudah diberikan arahan oleh Pak Menteri ESDM agar kami bicarakan dengan PGN, komponen mana yang bisa diatur. Termasuk di hulunya seperti apa, sehingga nanti ada potensi untuk bisa kami atur lebih rendah dari sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (26/6).

Dalam sektor industri, ada dua jenis harga gas yang ditetapkan pemerintah, yakni harga umum termasuk LNG dan harga gas murah atau Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang diberikan ke beberapa sektor.

Laode menyebut penyesuaian harga ini akan tertuang dalam revisi keputusan menteri. Harga yang disesuaikan tak hanya LNG tapi juga HGBT. 

Laode mengatakan hari ini Kementerian ESDM, SKK Migas, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), serta Kementerian Perindustrian menggelar rapat untuk membahas harga gas industri demi mengatasi masalah yang terjadi saat ini.

“Intinya kami akan cocokkan antara suplai gas  hulu serta kebutuhan industri agar tidak ada lagi perbedaan yang kemudian hari diklaim sebagai kekurangan pasokan,” ujarnya.

Laode menyebut kenaikan harga LNG untuk industri ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah (crude) global yang memengaruhi harga LNG.

Penurunan Produksi Gas

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan alasan terjadinya lonjakan harga gas untuk industri lantaran penurunan produksi. 

“Sebagian sumur-sumur kita khususnya di daerah Jawa Barat ke sini sedang terjadi penurunan, maka kemudian untuk menutupi (kekurangan pasokan) pakai LNG,” kata Bahlil saat ditemui dalam acara Energy Forum, Kamis (25/6). 

Dia mengatakan harga LNG mahal karena daerah penghasilnya berasal dari Papua, Sulawesi, Kalimantan sehingga ada tambahan pengeluaran untuk pengiriman. Kendati demikian dia menyebut pemerintah sedang mencari jalan tengah agar industri pengguna gas tidak terbebani harga gas yang tinggi.

“Saya seminggu ini sudah rapat dengan asosiasi dan buruh. Sekarang saya sedang rapat teknis dengan Pertamina untuk mencari angka yang ideal, agar industri kita tetap bisa bertahan,” ujarnya. 

Tak hanya itu, Bahlil memastikan industri yang mengalami kenaikan harga gas ini bukanlah sektor penerima kebijakan gas murah atau HGBT. Dia menjelaskan di industri Indonesia terdapat dua jenis harga gas, yakni harga umum dan HGBT.

“Kenaikan gas itu di beberapa industri non-HGBT, kalau HGBT itu disubsidi negara,” ucapnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...