Harga Minyak Naik Usai Kapal Tanker di Selat Hormuz Kembali Diserang
Harga minyak acuan dunia kembali naik. Hal ini terjadi setelah munculnya serangan terhadap kapal yang ada di Selat Hormuz.
UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker yang sedang berlayar ke arah selatan terkena proyektil di sisi kiri (port side) sekitar 8 mil laut di sebelah timur Limah, Oman, sehingga memicu kebakaran. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Dua kapal komersial dilaporkan terkena serangan dan mengalami kerusakan cukup parah, namun tidak ada korban jiwa.
Oleh sebab itu, harga minyak Brent naik 0,4% menjadi US$ 72,31 per barel pada pukul 08.58 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate menguat 0,5% menjadi US$ 68,87 per barel.
Sebelum serangan terjadi, harga minyak sempat anjlok sekitar 30% pada kuartal kedua, setelah Washington dan Teheran menyepakati kesepakatan damai sementara yang meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Harga acuan global Brent kini telah menghapus seluruh premi risiko perang yang terbentuk dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah bank besar, termasuk Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley, bahkan memperingatkan pasar kembali berisiko mengalami kelebihan pasokan.
Selat Hormuz merupakan jalur yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Jalur tersebut telah dibuka kembali secara bertahap setelah sebelumnya hampir sepenuhnya ditutup akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Baru-baru ini delapan kapal Jepang berhasil melintasi jalur tersebut. Meski demikian, volume lalu lintas pelayaran masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.
Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV yang berbasis di Singapura, Warren Patterson mengatakan serangan baru terhadap kapal-kapal di Teluk Persia menunjukkan kondisi di Timur Tengah masih jauh dari normal.
"Respons Amerika Serikat yang terbatas mungkin dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap harga minyak. Namun, mengingat sentimen pasar yang masih bearish dan lemahnya pasar fisik, setiap kenaikan harga kemungkinan hanya akan berlangsung singkat," ujar Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV yang berbasis di Singapura, Warren Patterson, dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/7).
Kemarin Saudi Aramco mengumumkan akan memangkas harga resmi penjualan (Official Selling Price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia bulan depan sebesar US$ 1,10 per barel, sehingga menjadi US$ 1,50 di bawah acuan regional. Sebelumnya Aramco telah dua kali menjual minyak jenis ini dengan harga diskon terjadi saat perang harga minyak pada 2020 dan 2015.
Langkah Riyadh tersebut menyusul keputusan negara-negara anggota OPEC+, untuk menaikkan kuota produksi bulan depan. Kebijakan itu semakin memperbesar prospek bertambahnya pasokan minyak di pasar.
Meskipun tambahan produksi tersebut masih bersifat teoritis, keputusan tersebut mencerminkan keinginan produsen untuk meningkatkan output seiring membaiknya kondisi pasar.
Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC. Jay Hatfield memproyeksi harga minyak di kisaran US$ 60 per barel dalam satu bulan ke depan.
"Pemangkasan harga jual resmi oleh Saudi biasanya mencerminkan perubahan kondisi harga pasar. Kami sebelumnya juga telah memperkirakan OPEC akan meningkatkan produksi hingga kapasitas maksimal untuk memperkuat kembali pendapatan mereka," ujarnya.
