Pertamina Mulai Injeksi Chemical EOR di WK Lepas Pantai Sumatra
PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) mulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES). Implementasi ini ditandai melalui seremoni injeksi pertama polimer, pada Rabu (8/7).
CEOR merupakan proses penginjeksian tiga komponen kimia, yakni alkali, surfaktan, dan polimer ke dalam lapisan penyimpanan minyak bumi atau reservoir. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kadar pengangkatan minyak dari lapisan tersebut.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan injeksi perdana polimer di Lapangan Rama ini merupakan yang pertama untuk lapangan lepas pantai (offshore) di Indonesia. Menurutnya injeksi ini bisa mengoptimalkan produksi minyak dari lapangan migas lepas pantai yang telah memasuki fase mature.
“Kami berharap CEOR mampu memberikan hasil recovery factor yang baik, dan berdampak pada meningkatnya lifting minyak nasional,” kata Djoko dalam siaran pers, dikutip Jumat (10/7).
Sebelum memasuki tahap implementasi, proyek ini telah melalui rangkaian kajian dan evaluasi yang komprehensif, mencakup studi subsurface, analisis laboratorium, desain engineering, dan operasional offshore, serta kajian keekonomian dan manajemen risiko.
CEOR berbasis polimer ini juga telah melalui proses assessment dan review yang melibatkan ahli EOR di lingkungan SKK Migas dan Pertamina. Hal ini dilakukan guna memastikan kesiapan implementasi dari aspek teknis, operasional, maupun keselamatan.
Dalam pelaksanaannya, teknologi polymer flooding diterapkan dengan menginjeksikan larutan polimer ke dalam reservoir untuk meningkatkan sweep efficiency, sehingga minyak yang sebelumnya sulit diproduksikan dapat terdorong menuju sumur produksi secara lebih optimal.
Metode ini merupakan salah satu teknologi EOR untuk meningkatkan recovery factor tahap lanjut pada lapangan-lapangan minyak yang telah memasuki fase mature.
“Lapangan mature bukan aset yang selesai, namun membutuhkan inovasi dan pendekatan baru. Melalui CEOR, kami sedang memperpanjang usia produktifnya,” kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.
PHE OSES menargetkan manfaat penuh dari proyek ini dapat direalisasikan hingga 2030. Implementasi CEOR ini diharapkan menjadi referensi penting bagi pengembangan teknologi EOR dan membuka peluang penerapan teknologi chemical EOR di lapangan-lapangan lepas pantai lainnya di Indonesia. Hal ini dimaksudkan mendukung peningkatan produksi migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Injeksi di Sumur Minas
Tak hanya lapangan Rama, PT Pertamina (Persero) juga sudah melakukan injeksi perdana proyek CEOR di Lapangan Minas Area A, Duri, Riau, pada Selasa (23/12/25).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan hasil injeksi ini akan menghasilkan tambahan produksi minyak sebanyak 2.800 barel per hari (bph). Hasil injeksi ini akan mulai menambah produksi setelah enam bulan dilakukan.
Djoko menyebut jumlah produksi minyak dari Lapangan Minas saat ini mencapai 28.000 bph. Adapun komponen CEOR sepenuhnya diproduksi dari dalam negeri.
“Nanti dengan suksesnya CEOR akan meningkatkan (produksi minyak) dua kali lipat,” kata Djoko dalam acara peresmian injeksi perdana CEOR, Blok Rokan, Riau, Selasa (23/12).
Sumur Minas sudah mulai berproduksi pada 1944, hingga saat ini baru 56% cadangan minyak yang sudah dikeluarkan. Sisa potensinya masih melekat di pori-pori batuan reservoir.
Djoko menyampaikan tingkat perolehan atau recovery factor di Lapangan Minas mencapai 56%, melalui injeksi CEOR maka akan didapatkan tambahan perolehan 16%. Dengan begitu, total tingkat perolehan mencapai 72%.
Hingga akhir tahun lalu nilai investasi yang sudah dikeluarkan untuk pengembangan teknologi CEOR di Rokan mencapai US$ 300 juta atau Rp 5 triliun. Angka ini terhitung sejak awal pengembangan CEOR oleh Pertamina.
