Harga Minyak Naik Imbas Serangan AS ke Iran Terkait Selat Hormuz
Harga minyak acuan dunia naik selama empat hari berturut-turut setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan ke Iran, dalam upaya mengamankan pelayaran di Selat Hormuz.
AS telah menyelesaikan gelombang serangan udara terbaru ke Iran dan menyatakan sudah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang menuju pelabuhan di negara anggota OPEC+ tersebut.
Harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$ 85,21 per barel pada pukul 09.38 waktu Singapura. Sementara itu, harga West Texas Intermediate naik 0,5% menjadi US$ 80,03 per barel.
Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan seiring meningkatnya kembali kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini menghapus sebagian dari penurunan sekitar 30% yang terjadi pada kuartal kedua.
Kekhawatiran tak hanya datang dari perang AS Iran, namun juga berasal dari serangan Ukraina terhadap fasilitas produksi bahan bakar dan kapal tanker Rusia semakin mengancam pasokan minyak global.
“Jadi kita kehilangan (pasokan) yang melalui Selat Hormuz sekaligus pasokan minyak mentah dan (hasil) kilang di Rusia. Situasi di sektor energi menurut saya cukup mengkhawatirkan,” kata penasihat senior Carlyle Group Inc., Jeff Currie, dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/7).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya berjanji akan meningkatkan serangan terhadap Iran. Hal ini dilakukan hingga Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan bersedia membuka kembali jalur pelayaran energi tersebut.
The Wall Street Journal melaporkan Trump cenderung memperluas operasi militer dan telah membahas kemungkinan merebut Pulau Kharg, yang menjadi lokasi terminal ekspor minyak utama Iran.
Di sisi lain, Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat menghentikan serangan dan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, mengatakan perekonomian global akan menghadapi tantangan baru apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz tidak dapat diselesaikan dalam beberapa pekan.
Serangan terbaru Iran terhadap kapal tanker minyak juga mengancam keberlangsungan pola perdagangan inovatif melalui sistem shuttle runs yang berkembang pesat dalam beberapa bulan terakhir. Pola ini menjadi salah satu cara utama menyalurkan minyak mentah keluar dari Teluk Persia.
Dalam sistem ini, kapal-kapal memindahkan muatan minyak ke kapal lain di luar Selat Hormuz. Mekanisme tersebut telah menjadi cara penting bagi negara-negara seperti Uni Emirat Arab selama perang berlangsung.
Analis RBC Capital Markets LLC, termasuk Helima Croft, mengatakan rata-rata pergerakan minyak selama tujuh hari melalui Selat Hormuz turun dari 4,6 juta barel per hari menjadi hanya 3,9 juta barel per hari sejak pertempuran kembali pecah sepekan lalu. Penurunan itu mencerminkan runtuhnya gencatan senjata, kembali terjadinya serangan Iran, serta berlanjutnya blokade Amerika Serikat.
Menurutnya, jika Trump memutuskan mengambil langkah mundur secara strategis, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak akan kembali ke tingkat sebelum perang selama perusahaan pelayaran masih menghadapi ancaman ranjau, rudal, drone, dan pungutan dari Teheran.
Kendati demikian, lalu lintas kapal tanker masih terus berlangsung. Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengatakan jumlah pelayaran yang dikawal Amerika Serikat mencapai dua digit pada Selasa malam. Dari sekitar 300 kapal yang melintasi jalur tersebut dalam sepekan terakhir, hampir separuhnya mendapat bantuan pengawalan dari militer AS.
