Kesepakatan Ekspor Listrik RI Belum Rampung, Ini Penjelasan Menteri Singapura
Katadata
Menteri Negara Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang (kanan) saat berbincang dengan jurnalis Indonesia di kantornya, Singapura, (17/7). Foto: Ameidyo Daud/Katadata
Singapura - Pemerintah Singapura angkat bicara soal belum adanya kesepakatan soal implementasi ekspor listrik dari Indonesia. Menteri Negara Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang mengatakan proyek tersebut harus memenuhi prinsip komersial agar dapat menjadi fondasi perdagangan listrik lintas batas.
Gan mengatakan, Singapura sebenarnya sangat ingin mewujudkan kesepakatan jual beli listrik dengan Indonesia. Saat ini kedua negara masih membahas aspek regulasi, teknis, hingga mekanisme penetapan harga.
"Perusahaan-perusahaan Singapura yang bersedia membeli listrik hijau, mereka akan membandingkan harga dengan alternatif yang dapat mereka peroleh untuk memenuhi target emisi," kata Gan berbincang dengan Katadata dan sejumlah media asal Indonesia di Singapura pada awal pekan lalu.
Hingga kini, Singapura telah memberikan persetujuan dan lisensi bersyarat kepada tujuh perusahaan Indonesia dengan total kapasitas sekitar 3,4 gigawatt (GW).
Meski demikian, implementasi proyek tidak langsung dilakukan dalam kapasitas penuh. Proyek akan dimulai dari sekitar 600 megawatt (MW) sebelum ditingkatkan secara bertahap.
"Kami bisa memulai dari skala yang lebih kecil, belajar dari proses tersebut, kemudian menarik lebih banyak investor," kata Gan.
Gan mengatakan, keberhasilan kerja sama Indonesia-Singapura diharapkan menjadi pemicu berkembangnya perdagangan listrik lintas batas di Asia Tenggara. Menurutnya, Indonesia tidak hanya berpotensi memasok listrik ke Singapura, tetapi juga ke negara-negara lain di kawasan melalui jaringan interkoneksi regional.
Dia juga menyinggung salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan kelancaran jual beli listrik lintas negara. "Yang diperlukan adalah menyelaraskan kebijakan dan komitmen politik di antara negara-negara di kawasan," ujarnya.
Gan juga menjelaskan bahwa penggunaan energi terbarukan merupakan jalan terbaik menuju masa depan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi dalam pengembangan energi tersebut.
"Anda (Indonesia) memiliki banyak potensi energi terbarukan serta dapat menjadi pemimpin dalam membentuk kebijakan, infrastruktur, dan kerangka kerja untuk perdagangan energi terbarukan," katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kesepakatan harga ekspor listrik Indonesia ke Singapura masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah menginginkan penentuan harga listrik memberikan keuntungan seimbang bagi Indonesia dan Singapura.
"Kami ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam siaran pers, Selasa (7/7).
Bulan lalu, Bahlil mengatakan, pihaknya mendapat laporan bahwa kawasan industri hijau di Batam, Bintan, dan Karimun sudah hampir final untuk memasok listrik ke Singapura. Selanjutnya, pemerintah akan membangun transmisi di wilayah Kepulauan Riau (Kepri).
Pembahasan soal pasokan listrik RI ke Singapura masuk dalam penandatanganan 26 kerja sama baru yang disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7).
Ada dua hal soal ekspor listrik ke Singapura. Pertama, penyusunan peta jalan (roadmap) perdagangan listrik lintas batas. Berikutnya, kerja sama Danantara dengan Singapore Energy Interconnections, perusahaan yang dibentuk Singapura untuk mempercepat pembangunan jaringan kabel listrik bawah laut.
