Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel Usai Houthi Serang Kapal di Laut Merah

Mela Syaharani
24 Juli 2026, 08:00
Kapal-kapal tampak berada di Selat Hormuz, sepert terlihat dari Musandam, Oman, 1 Juni 2026.
REUTERS
Kapal-kapal tampak berada di Selat Hormuz, sepert terlihat dari Musandam, Oman, 1 Juni 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia kembali menembus US$ 100 per barel. Hal ini terjadi setelah Kelompok Houthi menyerang kapal tanker di Laut Merah, situasi ini membuka babak baru perang Timur Tengah di tengah. 

Harga minyak Brent kini berada di angka US$ 100,82 per barel pada pukul 08.08 waktu Singapura, setelah melonjak 7% pada sesi sebelumnya. Minyak acuan dunia menembus angka US$ 100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. 

Minyak Brent bahkan mengalami kenaikan kontrak berjangka sekitar 14% sepanjang pekan ini. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level  di US$ 92,50 per barel.

Harga minyak melonjak sepanjang bulan ini seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia. Kondisi tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta menghambat arus pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG). 

Serangan pertama kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah semakin memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di kawasan.

"Jika lalu lintas di Laut Merah menjadi sangat minim, maka kami memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$ 120 per barel, ini menjadi titik balik bagi pasar. Jika transportasi terhenti, maka diperlukan penghematan konsumsi dengan harga yang lebih tinggi,” kata Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC, Jay Hatfield dikutip dari Bloomberg, Jumat (24/7).

Meski ada serangan disana, Bloomberg mencatat ada dua kapal tanker China yang berhasil keluar melalui jalur sempit Bab el-Mandeb dengan membawa muatan minyak mentah Arab Saudi. Kelompok militan yang berbasis di Yaman itu sebelumnya telah memperingatkan seluruh kapal agar tidak singgah di pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.

Laut Merah telah menjadi jalur ekspor alternatif yang penting bagi Arab Saudi karena memungkinkan negara tersebut menghindari Selat Hormuz dan tetap mengirim jutaan barel minyak setiap hari kepada pelanggan global. 

Menurut para pelaku perdagangan, sejumlah pembeli di Asia kini sedang berdiskusi dengan perusahaan minyak nasional Saudi Aramco untuk mengalihkan pengiriman melalui Terusan Suez dan memutari Afrika setelah serangan Houthi.

Kondisi geopolitik Timur Tengah kembali memanas dalam 2 minggu terakhir. Kini AS terhitung sudah melancarkan serangan kepada Iran selama 13 hari berturut-turut.  Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengancam akan memperluas serangan militernya ke Iran.

Di tengah situasi perang yang kian panas, kedua negara menepis kemungkinan kembalinya perundingan dalam waktu dekat. Teheran memperingatkan akan membalas AS dengan menyerang fasilitas energi di kawasan. Hal ini akan dilakukan apabila Trump merealisasikan ancamannya untuk menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran.

Trump mengancam akan menjatuhkan hukuman militer besar-besaran terhadap Iran maupun kelompok Houthi jika terjadi serangan lanjutan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Dia juga mengatakan sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Republik Islam Iran.

“Mulai saat ini, setiap dan seluruh kerusakan terhadap kapal, kargo, atau apa pun yang berkaitan dengannya akan dibayar menggunakan uang milik Iran. Uang mereka saat ini berada dalam penguasaan dan kendali Amerika Serikat,” kata Trump melalui media sosial  Truth Social.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...