Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Kekhawatiran Buntunya Perundingan AS-Iran

Mela Syaharani
13 Agustus 2026, 10:20
Harga minyak, kilang minyak
ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/tom.
Perwira Pertamina melakukan perawatan di area kilang di Pertamina Rifinery Unit III Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (10/9/2024). Kilang Plaju yang dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1904 tersebut hingga kini masih aktif beroperasi dengan kapasitas produksi dapat mencapai 85.000 barel per hari yang dipasarkan untuk kebutuhan domestik di Sumatera Selatan, Kalimantan, Jawa, dan ekspor.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia turun pada Kamis (13/8) setelah terus naik dalam 6 sesi perdagangan. Hal ini terjadi di tengah anggapan buntunya perundingan damai antara AS dan Iran serta terbukanya akses Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Brent turun turun 1,2% menjadi US$ 87,92 per barel pada pukul 09.49 waktu Singapura, setelah naik 12% dalam enam sesi sebelumnya. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 1,3% menjadi US$ 82,21 per barel.

Harga minyak mentah masih bergerak menuju kenaikan mingguan setelah berbulan-bulan mengalami perdagangan yang bergejolak. Para pedagang terus memantau upaya yang naik-turun dari Teheran dan Washington untuk mengakhiri konflik mereka. 

Hingga saat ini dari sisi diplomasi, belum banyak tanda kemajuan terkait pembukaan kembali jalur perairan tersebut. Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS memiliki kendali total atas jalur strategis tersebut.

Perundingan antara AS dan Iran tampaknya mengalami kebuntuan karena kedua pihak bersikeras dengan posisinya masing-masing. Washington terus melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. 

Pakistan yang berperan sebagai mediator mengatakan, proses perdamaian yang lebih luas telah terhenti. Namun, tenggat waktu untuk mencapai nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran masih dapat diperpanjang.

Perang di Timur Tengah ditambah dengan pertempuran antara Ukraina dan Rusia telah memperketat pasar minyak mentah dan produk olahan minyak. Konflik dua negara tersebut memicu gelombang serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk pelabuhan dan kilang, 

“Volatilitas tampaknya akan tetap menjadi ciri utama hingga upaya diplomatik berhasil membuka kembali Selat Hormuz dan meningkatkan kepastian terkait produksi,” kata Chief Investment Strategist Saxo Markets, Charu Chanana, dikutip dari Bloomberg, Kamis (13/8). 

Menurutnya, pelemahan permintaan juga menambah kekhawatiran karena harga yang lebih tinggi sudah mulai menekan konsumsi.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pasar minyak global menghadapi defisit pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini. Jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari proyeksi sebelumnya karena perang AS-Iran terus berlangsung. 

IEA juga memperingatkan permintaan minyak mentah tertekan akibat kenaikan harga. Untuk keseluruhan 2026, defisit tersebut kemungkinan menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

Kendati demikian, persediaan minyak mentah AS melonjak 17,4 juta barel pada pekan lalu, menjadi kenaikan terbesar sejak Januari 2023. Peningkatan stok terutama terjadi di kawasan Pantai Teluk AS, didorong oleh ekspor yang lebih lemah dan kenaikan impor, termasuk kembalinya pasokan minyak dari Arab Saudi dan minyak mentah Venezuela.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...