Pertamina Targetkan Seluruh SPBU Salurkan Biosolar B50 Akhir September 2026

Kamila Meilina
11 September 2026, 11:20
Pertamina, SPBU, biosolar, B50
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/bay/kye
Pengemudi mengisi bahan bakar Biosolar B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina Patra Niaga menargetkan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia telah menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar dengan campuran biodiesel 50% atau B50 pada akhir September 2026.

Direktur Pemasaran Retail Pertamina Patra Niaga Ricky Susanto mengatakan saat ini proses transisi dari Biosolar B40 ke B50 telah mencapai sekitar 95% SPBU.

"Jadi saat ini sebagai informasi hampir sebagian besar seluruh terminal BBM sudah tersedia B50 dan sekitar 95% SPBU sudah mendistribusikan B50," ujar Ricky di kawasan Terminal Rewulu Pertamina, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (11/9). 

Masih terdapat sejumlah SPBU yang dalam proses transisi dari B40 ke B50. Kondisi itu terutama terjadi di wilayah Papua dan Maluku karena masih terdapat stok B40 yang perlu dihabiskan.

"Yang sisanya memang masih ada yang transisi antara B40-B50 dan menghabiskan stok B40 di wilayah Papua-Maluku karena stoknya masih cukup tinggi," katanya.

Ricky menargetkan seluruh wilayah Indonesia dapat beralih sepenuhnya ke B50 pada akhir September 2026. Pertamina Patra Niaga saat ini mencakup distribusi BBM di seluruh Indonesia melalui delapan wilayah regional.

Adapun delapan regional tersebut meliputi Sumatera Bagian Utara, Sumatera Bagian Selatan, Jawa Bagian Barat, Jawa Bagian Tengah, Jawa Timur-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Papua-Maluku.

Implementasi B50 ini disebutnya merupakan bagian dari program strategis pemerintah dalam mendorong penggunaan energi berbasis bahan nabati. Bahan baku biodiesel tersebut menggunakan minyak sawit atau crude palm oil (CPO).

Pertamina menyatakan jika ketersediaan bahan baku mencukupi kebutuhan bahan bakar nasional, pengembangan biodiesel berpotensi berlanjut dari B50 menuju B60 hingga B100.

"Kalau memang ketersediaan bahan bakunya cukup untuk kebutuhan bahan bakar, mungkin akan bergeser ke B60 ataupun hingga B100. Ini juga masih prosesnya akan berjalan karena kita tinggal mengikuti roadmap yang ditentukan oleh pemerintah," ujar Ricky.

BBM Berbasis Etanol

Selain biodiesel, Pertamina juga mengembangkan BBM berbasis etanol melalui produk Pertamax Green 95. Produk itu telah didistribusikan selama sekitar tiga tahun dan saat ini masih dipasarkan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Ricky mengatakan Pertamax Green 95 telah tersedia di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, serta sebagian wilayah DKI Jakarta. Pasokan produk tersebut salah satunya didukung oleh produksi etanol dari perusahaan di Mojokerto.

Pengembangan BBM berbasis etanol juga menjadi bagian dari upaya transisi energi, khususnya untuk produk BBM jenis bensin atau gasolin.

Pemerintah saat ini tengah menggodok kebijakan terkait penggunaan etanol dalam BBM. Pertamina pun menyiapkan Pertamax Green 95 untuk mendukung kebijakan tersebut apabila nantinya diterapkan secara lebih luas.

"Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan mungkin dalam satu sampai dua tahun ke depan semua produk gasolin akan berbasis etanol," ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...