Harga Nikel Tembus US$16.000 per Ton Usai Cina Mau Pangkas Produksi di RI

Nur Hana Putri Nabila
21 Oktober 2026, 17:00
Pekerja menunjukkan biji nikel mentah di area smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Antara Foto/Nova Wahyudi
Pekerja menunjukkan biji nikel mentah di area smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga nikel menguat empat hari berturut-turut hingga menembus US$16.000 usai produsen asal Cina di Indonesia tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi secara terkoordinasi.

Di London Metal Exchange, harga nikel naik hingga 2,7% dan menembus US$16.000 per ton. Harga terus menanjak sejak menyentuh level terendah dalam sembilan bulan pada Kamis (16/10).

Berdasarkan Bloomberg, sejumlah eksekutif produsen nikel besar Cina tengah membahas untuk membatasi produksi di Indonesia, termasuk di pabrik yang memproduksi bahan baku utama baterai. Para produsen sebelumnya gagal menyepakati pemangkasan pada Agustus.

“Yang benar-benar menjadi fokus semua orang saat ini adalah besaran pemangkasan produksi, angka-angka yang beredar di pasar cukup signifikan,” kata Gao Yin, analis di Shuohe Asset Management Co, dikutip Bloomberg, Rabu (21/10). 

Adapun produsen nikel di Indonesia tengah tertekan dari pelemahan harga dan kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, pengetatan kuota pertambangan turut membatasi pasokan bijih nikel. 

Sebagai produsen nikel terbesar dunia, perubahan produksi Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga global.

Sementara itu, di pasar logam lainnya, Emirates Global Aluminium telah memulihkan separuh kapasitas pabrik peleburan utamanya yang terdampak perang di Iran. Perusahaan tersebut tetap menargetkan pemulihan kapasitas penuh pada kuartal pertama 2027.

Gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat perang di Iran mengguncang pasar aluminium tahun ini. Kawasan itu menyumbang sekitar 10% produksi aluminium global, sehingga gangguan distribusi mendorong kenaikan harga dan premi logam.

Pada pukul 09.59 waktu setempat, harga aluminium naik 0,8% di London Metal Exchange (LME). Sementara itu, harga nikel menguat 2,1% menjadi US$16.005 per ton, sehingga mempersempit penurunan harga sepanjang tahun ini menjadi kurang dari 4%. Harga logam lainnya relatif stabil.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...