Proyek LNG Masela Ditargetkan Beroperasi Paling Lambat Akhir 2030
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengatakan Proyek LNG Abadi Blok Masela bakal mulai beroperasi paling lambat pada akhir 2030.
Dia mengatakan target tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. "Pesan Bapak Presiden, secepatnya. Kalau bisa 2029 bagus, 2030 bagus, atau paling telat jangan jauh-jauh dari akhir 2030,” kata Djoko saat memberikan sambutan acara Inpex FEED Completion Seremony di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place pada Selasa (27/10).
Djoko juga menyampaikan bahwa pengelola Blok Masela akan menyelesaikan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan sejumlah pembeli domestik.
Penandatanganan tersebut dijadwalkan berlangsung dalam Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (Forek Hulu Migas) tahun ini.
Djoko mengatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menyetujui alokasi gas untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Alokasi tersebut mencakup gas pipa untuk PT Pupuk Indonesia serta gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Menurut Djoko, penandatanganan PJBG akan memberikan kepastian pembeli bagi gas yang dihasilkan Blok Masela. Kepastian penyerapan gas tersebut menjadi salah satu persyaratan bagi konsorsium pengelola Masela untuk menyelesaikan tahapan menuju keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan pada Januari 2027 mendatang.
"PJBG ini merupakan persyaratan utama untuk konsorsium INPEX, Pertamina, dan Searah, menyelesaikan atau menyetujui atau menandatangani FID-nya," ujar Djoko.
Proyek LNG Abadi Masela membutuhkan investasi sekitar US$ 22 miliar. Pengembangan lapangan tersebut dirancang menghasilkan gas bumi sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).
Pengelola proyek akan mengolah gas tersebut menjadi LNG sebanyak 9,5 juta ton per tahun dan memasok 100 MMSCFD gas melalui jaringan pipa. Selain gas bumi, pengelola proyek juga menargetkan produksi kondensat dari Lapangan Abadi Masela mencapai 35.000 barel per hari atau (barrels of condensate per day (BCPD).
