Bos Bulog Targetkan Rapor Keuangan Biru Tahun Depan, Ini Starteginya
Wakil Direktur Utama Perum Bulog Gatot Trihargo menargetkan kondisi keuangan perusahaan berbalik dari rugi menjadi untung tahun depan. Sejumlah strategi tengah disiapkan untuk mencapai target tersebut.
Startegi pertama terkait Cadangan Beras Pemerintah (CBP). "Tahun depan laporan keuangan kami akan biru. Caranya, pemahaman CBP disamakan persepsinya," kata Gatot di kantornya, Jakarta, Rabu (11/12).
Menurut dia, penyediaan CBP perlu dianalogikan seperti penyediaan solar dan premium oleh Pertamina. Ini artinya, CBP dipersepsikan sebagai beras milik Bulog. Sebab, pemerintah hanya membiayai selisih harga penyerapan beras dari petani dengan harga jual beras.
(Baca: Bulog Buang Beras 20 Ribu Ton, Buah dari Kebijakan Salah Hitung Impor?)
Dengan persepsi demikian, Bulog tidak khawatir untuk menyalurkan CBP meski tidak ada penugasan pemerintah. "Selama ini kan persepsinya beras CBP punya pemerintah, tidak boleh diapa-apakan (tanpa penugasan)," ujar dia.
Ia menjelaskan, penyamaan persepsi tentang kepemilikan CBP ini perlu dibahas dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
Adapun berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 88 Tahun 2019, dana untuk pengadaan CBP 2019 sebesar Rp 2,5 triliun atau setara 250 ribu ton. Anggaran tersebut baru bisa dicairkan bila beras Bulog telah disalurkan kepada masyarakat. Maka itu, pengadaan CBP oleh Bulog dilakukan menggunakan kredit perbankan terlebih dulu.
Selain penyamaan persepsi tentang CBP, upaya memperbaiki keuangan dilakukan dengan meningkatkan penjualan komersial. Gatot mengatakan, penjualan beras komersil akan mencapai 50% dari total stok beras. Saat ini, porsi penjualan beras komersil baru mencapai 20%, sedangkan beras penugasan 80%.
(Baca: Genjot Penyaluran Beras Komersil, Bulog Ekspansi Jaringan Pemasaran)
Hal ini juga diikuti dengan penjualan beras komersial melalui platform e-commerce. Saat ini, Bulog tengah mengembangkan sistem teknologi informasi guna mendorong penjualan secara online.
Dengan kedua strategi tersebut, keuangan Bulog diperkirakan akan untung. Selain itu, kedua langkah tersebut dinilai dapat mencegah terjadinya penurunan mutu beras di gudang sehingga berpotensi dibuang (disposal stock).
(Baca: Masalah Bulog di Masa Buwas, dari Hilangnya Rastra hingga Mafia Beras)
Berdasarkan laporan keuangan 2018, Bulog merugi Rp 961,78 miliar. Adapun sepanjang Januari-September 2019, kerugian perusahaan telah mencapai Rp 955 miliar, yang bersumber dari segmen Public Service Obligation (PSO) atau penugasan pemerintah. Alhasil, Gatot memperkirakan Bulog masih rugi pada 2019 ini.
