Pasokan Rendah, Harga Referensi CPO Maret Naik ke US$1.432,24/Ton
Harga referensi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ditetapkan sebesar US$ 1.432,24 per ton untuk bulan Maret. Harga referensi tersebut naik 8.93% dari posisi Februari 2022 di level US$1.314,78 per ton.
Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 10 Tahun 2022 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.
Dengan harga referensi sebesar US$ 1.432,24 per ton di bulan Maret maka bea keluar (BK) untuk CPO dan turunannya menjadi US$ 200 per ton.
"Saat ini harga referensi CPO telah jauh melampaui threshold US$ 750 per ton. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$ 200 per ton untuk periode Maret 2022," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (1/3).
Penyesuaian harga referensi CPO dinilai disebabkan oleh menurunnya jumlah pasokan CPO di dalam dan luar negeri.
Kementerian Perdagangan mengatakan penurunan pasokan CPO global disebabkan oleh tiga hal, yakni curah hujan tinggi di dalam negeri, penurunan jumlah tenaga kerja di Malaysia, dan ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina.
Di samping itu, pemerintah telah menerbitkan aturan kewajiban pasar domestik (DMO) pada akhir Januari 2022. Hal ini membuat India menurunkan pajak impor CPO dari 7,5% menjadi 5% karena dianggap sebagai pembatasan ekspor.
Selain CPO, pemerintah juga menyesuaikan harga referensi untuk BK biji kakao sebesar 4,17% secara bulanan menjadi US$ 2.627,71 per ton untuk Maret 2022.
Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya harga biji kakao sebesar 4,61% atau US$ 103 per ton menjadi US$ 2.333 per ton.
Serupa dengan CPO, meningkatnya harga biji kakao internasional disebabkan oleh terhambatnya produksi di Ghana akibat angin kering harattan. Pada saat yang sama, permintaan biji kakao dunia meningkat seiring dengan pulihnya negara konsumen biji kakao.
Council of Palm Oil Producing Countries (CPOC) menyatakan industri CPO nasional memasok sekitar setengah dari konsumsi CPO dunia. Pada 2021, tingkat konsumsi CPO di dalam negeri hanya mencapai 35%.
Namun demikian, pemangku kepentingan nasional belum dapat mengatur harga CPO yang pada akhirnya dapat mengatur harga olahan CPO, seperti minyak goreng (migor).
Tingkat konsumsi CPO di dalam negeri pada 2021 telah menigkat dibandingkan realisasi 2019 sebesar 31%. Industriwan meramalkan tingkat konsumsi CPO domestik akan terus meningkat dan menjadi 37% pada 2022.
"Kalau (tingkat konsumsi CPO) masih seperti sekarang, belum mencapai 60%, harga kita sangat dipengaruhi harga internasional karena mereka yang beli produk kita terbanyak," kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga kepada Katadata, beberapa waktu lalu.
Sahat berujar peningkatan pada tahun ini akan didorong oleh program peningkatan campuran CPO dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) ke dalam bahan bakar atau lebih dikenal dengan Biodiesel.
Pemerintah meningkatkan angka kebutuhan biodiesel pada 2022 sebanyak 7,84% menjadi 10,15 juta kiloliter dari kebutuhan pada 2021 sejumlah 9,41 juta kiloliter.
Pemenuhan keutuhan biodiesel pada tahun ini akan diemban oleh 22 badan usaha dengan kapasitas terpasang 15,49 juta kiloliter.
Gapki mencatat produksi CPO Indonesia pada tahun 2021 mencapai 46,89 juta ton atau 0,31% lebih rendah dari 2020 (47,034 juta ton).
Minimnya ketersediaan pupuk pada 2021 membuat proses pemupukan kembali terhambat. Sebagai informasi, efek dari minimnya pemupukan pada perkebunan kelapa sawit akan mempengaruhi volume produksi pada 1-1,5 tahun mendatang.
