Rayu AS Investasi Semikonduktor, RI Bersaing dengan Korsel dan Taiwan

Tia Dwitiani Komalasari
23 September 2022, 17:52
Jonathan Ernst Presiden AS Joe Biden dan Menteri Perdagangan Gina Raimondo (tidak difoto) mengadakan pertemuan virtual dengan para pemimpin bisnis dan gubernur negara bagian untuk membahas masalah rantai pasokan, khususnya menangani chip semik
ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/aww/sad.
Jonathan Ernst Presiden AS Joe Biden dan Menteri Perdagangan Gina Raimondo (tidak difoto) mengadakan pertemuan virtual dengan para pemimpin bisnis dan gubernur negara bagian untuk membahas masalah rantai pasokan, khususnya menangani chip semikonduktor di kampus Gedung Putih di Washington, AS, Rabu (9/3/2022).

Pemerintah Indonesia tengah gencar untuk menawarkan investasi ke Amerika Serikat, termasuk di antaranya untuk industri semikonduktor. Namun demikian, investasi industri cip semikonduktor tersebut tidak hanya diminati oleh Indonesia namun juga Korea Selatan dan Taiwan.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan AS memiliki produsen semikonduktor raksasa antara lain Intel, Micron Technology, Qualcomm, Broadcom, Texas Instruments, dan NVIDIA. Sementara Indonesia memiliki bahan baku yang menjadi komponen semikonduktor.

Advertisement

“Indonesia memiliki sumber daya bahan baku seperti pasir silika yang melimpah di beberapa wilayah Jawa, Sumatera dan Kalimantan, Investasi yang akan hadir nanti diharapkan dapat memperkuat rantai nilai di sektor-sektor industri lainnya, seperti otomotif, komunikasi, dan elektronik,” ujar Agus setelah pertemuan dengan US Trade Representative Ambassador, Katherine Tai, di Bali, Kamis (22/9).

Dia mengatakan, Kementerian Perindustrian telah menyusun peta jalan jangka menengah yakni tahun 2022-2030 untuk pengembangan industri semikonduktor di Indonesia. “Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada investor industri semikonduktor,” ujarnya.

Kompetisi dengan Korsel dan Taiwan

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah menandatangani Undang-undang (UU) untuk manufaktur teknologi tinggi dan penelitian ilmiah yakni CHIPS and Science Act. Melalui UU ini, mereka mengalokasikan dana sebesar US$ 280 miliar atau Rp 4.108 triliun.

UU tersebut juga mengarahkan sekitar US$ 200 miliar untuk lembaga seperti National Sccience Foundation. Tujuannya, meningkatkan investasi di bidang-bidang seperti robotika dan komunikasi nirkabel. Biden menyebutnya sebagai investasi ‘sekali dalam satu generasi’.

Dikutip dari CNN Jumat (23/9), negara adidaya tersebut akan mengembangkan manufaktur cip di Korea Selatan dengan menyalurkan insentif hampir US$ 53 miliar atau Rp 781 triliun. Namun demikian, Amerika Serikat menetapkan syarat bahwa perusahaan yang mendapatkan insentif tersebut tidak boleh bekerja sama dengan Cina.

Dengan menerima bantuan AS, penerima subsidi dilarang memperluas produksi di Cina di luar “semikonduktor lama” – yang didefinisikan sebagai chip yang dibuat dengan teknologi proses 28 nanometer atau lebih lama – selama 10 tahun. Syarat tersebut menunjukkan persaingan AS dengan Cina untuk menjadi penguasa sektor teknologi dunia.

Kebijakan tersebut membuat perusahaan produsen cip semikonduktor asal Korea Selatan dalam posisi sulit. Produsen asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, khawatir kehilangan Cina sebagai mitra dagang dan bisnisnya.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement