Jokowi Tegaskan Stok Beras Aman Tapi Distribusi Terganggu Banjir

Andi M. Arief
14 Februari 2024, 11:27
beras, jokowi, banjir
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/Spt.
Presiden Joko Widodo didampingi Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi (kanan) berbincang dengan warga penerima manfaat pada acara Penyaluran Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah di Gudang Bulog, Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (1/2/2024). Dalam kesempatan tersebut Presiden memastikan Pemerintah akan menyalurkan bantuan 10 kilogram beras yang akan dibagikan hingga bulan Juni kepada 22 juta masyarakat Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Joko Widodo mengatakan stok cadangan beras pemerintah di Perum Bulog cukup banyak. Menurutnya, isu beras saat ini ada di sisi distribusi karena terganggu oleh banjir.

Ia mencontohkan kesulitan distribusi beras akibat banjir di Demak. Banjir rob yang melanda demak telah merendam 4.000 rumah dan 275 hektare lahan pertanian.

"Ini masalah distribusi karena banjir. Namun Bulog selalu menyiapkan stok beras medium dan premium. Ini tidak perlu dikhawatirkan," kata Jokowi di TPS 10 Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (14/2).

Perum Bulog menyatakan produksi beras pada awal tahun ini anjlok sehingga menyebabkan stok beras di pasaran menipis. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan perubahan iklim telah memengaruhi proses panen padi di dalam negeri.  

Bayu menyampaikan, curah hujan yang tidak menentu membuat proses pengeringan gabah terhambat. Ia mencatat 95% gabah di dalam negeri masih dikeringkan menggunakan cahaya matahari.

Adapun gabah yang telah terguyur hujan tidak bisa langsung dikeringkan dengan mesin pengering gabah. Ini karena proses tersebut justru dapat membuat gabah pecah dan membuat beras di proses akhir berwarna kuning.

"Saat ini proses panen kita terlambat karena sebentar hujan, sebentar tidak, lalu hujan lagi. Hal tersebut membuat petani dan penggilingan padi sakit kepala," kata Bayu di kantornya, Selasa (13/2).

Badan Pangan Nasional memproyeksikan panen beras baru akan optimum pada Maret 2024 atau mencapai 3,5 juta ton. Walau demikian, angka tersebut lebih rendah 31,77% dari periode yang sama tahun lalu sejumlah 5,13 juta ton.

Di sisi lain, Bayu menilai banjir yang menggenangi beberapa sentra produksi beras di Jawa Tengah tidak akan mempengaruhi performa panen secara nasional. Bayu menghitung total sentra sawah yang tergenang banjir pada akhir pekan lalu, Jumat (9/2), mencapai 4.000 hektar. Jika hasil panen per hektare mencapai 5 ton, maka beras yang terancam gagal panen mencapai 20.000 ton.

Menurut Bayu, angka tersebut cukup signifikan bagi para petani padi di daerah tersebut. Namin, masih dapat dikendalikan dalam skala nasional. "Kalau secara nasional masih bisa dikendalikan karena Bulog punya stok hampir 1,2 juta ton," ujarnya.

Bayu menjelaskan, stok Bulog tersebut seluruhnya berasal dari impor lantaran Bulog tidak mampu menyerap beras lokal. Sebab, Harga Pembelian Pemerintah atau HPP gabah yang harus dipatuhi bulog adalah Rp 5.000 per kg, sementara harga gabah di petani kini mencapai Rp 8.000 per kg.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...