PMI Manufaktur RI Jeblok ke Zona Kontraksi pada Juli, Apa Penyebabnya?

Ringkasan
- PMI Manufaktur Indonesia menyentuh zona kontraksi dengan indeks 49,3 pada Juli 2024, menandai kontraksi pertama sejak Agustus 2021 setelah sebelumnya berada di level ekspansif 50,7 pada bulan sebelumnya.
- Penurunan PMI Manufaktur disebabkan oleh melambatnya pasar yang mengakibatkan permintaan baru dan produksi turun, dengan penurunan permintaan barang dan ketenagakerjaan tercepat sejak September 2022 serta peningkatan waktu pengiriman akibat masalah pengiriman laut.
- Sektornya menghadapi penurunan baik dalam permintaan domestik maupun ekspor, dengan beberapa laporan menyebutkan masih adanya tantangan dalam pengiriman dan potensi kelebihan produksi meski terjadi penurunan, tetapi ada optimisme untuk pemulihan berkat kepercayaan perusahaan yang tinggi sejak Februari.

Purchasing Manager Index (PMI) atau PMI Manufaktur Indonesia merosot ke level 49,3 atau masuk kategori kontraksi pada Juli 2024. Ini merupakan kontraksi pertama sejak Agustus 2021.
Data PMI manufaktur ini dirilis oleh perusahaan intelijen keuangan asal Amerika Serikat S&P Global yang juga memiliki area bisnis pemeringkatan kredit. Mengutip siaran pers S&P Global, manufaktur Indonesia pada Juli turun dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di level ekspansif dengan indeks sebesar 50,7. PMI manufaktur disebut masuk dalam level kontraksi jika berada di bawah 50.
“Pasar secara umum melambat mendorong penurunan marginal pada kondisi pengoperasian selama Juli, dengan permintaan baru berkurang dan produksi turun untuk pertama kali dalam dua tahun," ujar Paul Smith, Economics Director S&P Global Market Intelligence, seperti dikutip dari siaran pers yang dirilis Kamis (1/8).
Smith mengatakan, permintaan terhadap barang dan kondisi ketenagakerjaan menurun dengan kecepatan tertinggi sejak September 2022. Hal ini membuat produsen menjadi waspada.
Hambatan pasokan juga menambah kesulitan perusahaan, dengan rata-rata waktu pengiriman diperpanjang karena masalah pengiriman via laut yang berkelanjutan. “Namun ada harapan bahwa sektor akan segera kembali bertumbuh, dengan perusahaan sangat percaya diri sejak bulan Februari di tengah harapan bahwa penjualan dan kondisi pasar akan membaik pada tahun mendatang," kata dia.
Menurut S&P Global, penurunan PMI menggambarkan kondisi penurunan produksi dan permintaan pesanan baru yang sama-sama berada pada tingkat moderat. Panelis melaporkan bahwa permintaan pasar menurun dan merupakan faktor utama penyebab penjualan turun untuk pertama kali dalam satu tahun.
Penjualan ekspor baru juga menurun, meski pada tingkatan yang lebih rendah. Hal ini antara lain menggambarkan terjadinya penundaan pada pengiriman. Data survei terkini menunjukkan bahwa rata-rata waktu pengiriman diperpanjang untuk pertama kali dalam tiga bulan.
Panelis melaporkan masih terdapat tantangan pada rute pengiriman penting seperti melalui Laut Merah. Ada beberapa bukti bahwa meski terjadi penurunan produksi secara keseluruhan, sektor manufaktur terus menghasilkan output berlebih pada bulan Juli.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menjelaskan, PMI manufaktur sejak tahun lalu mengalami ekspansi atau berada pada level di atas 50. Ini terutama didorong oleh sektor hilirisasi mineral terutama nikel.
"Beberapa bulan ini agak menurun terutama karena permintaan dari Cina turun, sedangkan stok juga menumpuk," ujar David.