Bahlil Bingung RI Impor 60% BBM dari Singapura yang Tak Punya Minyak
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengaku bingung dengan Singapura, yang menjadi negara pemasok 60% impor bahan bakar minyak atau BBM untuk Indonesia.
"Singapura tidak punya minyak, tapi dia bisa impor ke Republik Indonesia 60%. Ini saya tidak mengerti teorinya dari mana," kata Bahlil di Jakarta, dikutip dari Antara pada Kamis (12/12).
Melihat kondisi ini, Bahlil menyebut Indonesia akan membuat fasilitas penyimpanan cadangan minyak atau storage di sebuah pulau yang berdekatan dengan Singapura. Ini bertujuan agar Indonesia bisa segera mencapai kedaulatan energi, seperti yang ditargetkan oleh Presiden Prabowo.
"Kita akan bangun storage di satu pulau yang berdekatan dengan Singapura, kemampuan penyimpanan (storage) kurang lebih sekitar 30-40 hari," ujarnya.
Bahlil menyatakan, fasilitas penyimpanan itu bisa menampung berbagai jenis minyak, dan nantinya Pertamina bisa membeli dengan harga yang murah.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, konsumsi minyak nasional pada 2023 sebesar 518 juta barel yang terpenuhi dari produksi dalam negeri sebanyak 221 juta barel (42,66%), serta impor minyak mencapai 297 juta barel (57,34%).
“297 juta barel ini terdiri dari 129 juta barel dalam bentuk minyak mentah dan 168 juta barel berbentuk BBM,” kata Yuliot dalam acara Hilir Migas Conference & Expo 2024 yang dipantau secara daring melalui youtube BPH Migas pada Kamis (12/12).
Data BPS menunjukkan, Indonesia telah menjadi net importir minyak sejak 2004. Ketika itu volume impor minyak mentah dan produk olahan minyak mencapai 30,3 juta ton sedangkan ekspornya mencapai 34,9 juta ton, sehingga terjadi defisit 4,6 juta ton.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam rentang 2017-2022 Singapura menjadi negara terbanyak untuk impor minyak bumi dan hasil-hasilnya. Secara rata-rata jumlah impor Indonesia ke Singapura untuk minyak bumi dan hasil-hasilnya selalu berada di atas 10 juta ton per tahun. Berikut perinciannya:
Tahun 2017
Volume: 15,84 juta ton, 31,45% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 8.6 miliar atau Rp 137 triliun
Tahun 2018
Volume: 17,85 juta ton, 36,27% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 11,85 miliar atau Rp 188,83 triliun
Tahun 2019
Volume:13,74 juta ton, 33,58% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 8,12 miliar atau Rp 129,31 triliun
Tahun 2020
Volume: 10,46 juta ton, 27,8% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 4,22 miliar atau Rp 67,22 triliun
Tahun 2021
Volume: 10,33 juta ton, 24,53% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 6,68 miliar atau Rp 106,51 triliun
Tahun 2022
Volume: 10,94 juta ton, 22,93% dari total impor minyak bumi tahun tersebut
Nilai: US$ 10,38 miliar atau Rp 165,35 triliun
Singapura merupakan hub minyak dunia yang menjadi pusat kilang dan pengekspor produk minyak terbesar kelima di dunia. Tiga kilang Singapura memiliki kapasitas penyulingan minyak mentah gabungan sebesar 1,3 juta bph, menurut perkiraan Januari 2021 dari Oil & Gas Journal (OGJ).
Setidaknya, ada 3 kilang minyak besar yang beroperasi di Singapura, ketiganya yakni Shell Pulau Bukom Refinery dengan kapasitas 500.000 bph, ExxonMobil Jurong Island Refinery 605.000 bph, dan SRC Jurong Island Refinery 290.000 bph.
Dengan kapasitas sebesar itu, Singapura mampu mengolah minyak bumi yang diimpor dari Asia Tenggara dan Timur Tengah untuk kemudian diolah menjadi BBM siap ekspor. Konsumsi BBM Singapura pun sangat kecil sehingga sebagian besar BBM hasil penyulingan bisa diekspor.
Sebagian besar produk minyak sulingan dan ekspor petrokimia Singapura ditujukan ke negara-negara tetangga di Asia. Malaysia, Indonesia, Australia, dan Cina bersama-sama menyumbang hampir 60% dari ekspor produk minyak olahan. Tujuan utama ekspor petrokimia Singapura yaitu Cina, Indonesia, India, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.