Pemerintah Belum Terbitkan Izin Impor Daging Sapi dan Kerbau untuk Stok Lebaran

Andi M. Arief
31 Januari 2025, 16:05
daging sapi, badan pangan
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pangan Nasional belum memberikan penugasan impor 100.000 ton daging kerbau kepada BUMN Pangan yang biasanya dilakukan untuk menghadapi lonjakan permintaan selama Ramadan 2025. Pemerintah belum menerbitkan izin impor daging sapi sejumlah 180.000 ton yang akan direalisasikan sepanjang tahun ini.

Deputi Bidang Ketersediaan san Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pemerintah masih fokus dalam menyerap beras selama Panen Raya pada Februari-April 2025. Ketut mengaku, penundaan penugasan maupun izin impor kerbau dan sapi agar peternak lokal dapat menikmati masa panen.

"Kami tidak mempermasalahkan penugasan maupun izin impor daging agar harga daging dalam negeri naik dulu. Tujuannya agar penternak di dalam negeri bisa menikmati masa panen," kata Ketut kepada Katadata.co.id, Jumat (31/1).

Berdasarkan data Bapanas, rata-rata nasional harga daging sapi hanya Rp 134.131 per kg hari ini, Jumat (31/1), di bawah harga acuan pemerintah Rp 140.000 per kg.

Bapanas mendata, hanya ada 13 dari 38 provinsi dengan harga daging sapi yang sesuai maupun di atas HAP. Harga daging sapi terendah ada di Nusa Tenggara Timur atau senilai Rp 113.942 per kg.

Ketut berkomitmen akan langsung menugaskan BUMN Pangan untuk mengimpor daging kerbau setelah ada keputusan resmi pemerintah. Menurutnya, keputusan penugasan tersebut akan terbit secepatnya pekan depan.

Ia menjelaskan importasi daging kerbau akan memakan waktu sekitar sebulan. Untuk diketahui, pemerintah menugaskan PT Rajawali Nusantara Indonesia untuk mengimpor 100.000 ton daging kerbau dari India.

"Artinya, kami masih bisa mengejar pengadaan daging kerbau menjelang Ramadan 2025. Pekan depan proses penugasan impor daging kerbau sepertinya akan dimulai," katanya.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, pihaknya akan menerbitkan Pertimbangan Teknis impor daging sapi maupun kerbau. Untuk diketahui, Pertek dari Kementan menjadi syarat untuk Kementerian Perdagangan menerbitkan izin impor.

Namun Sudaryono belum mengumumkan kapan Pertek impor sapi dan kerbau akan diterbitkan. Sudaryono menjelaskan impor daging sapi dan kerbau tidak akan langsung dihentikan dengan adanya impor sapi hidup mulai tahun ini.

"Impor daging sapi tidak bisa diberhentikan total, tapi kami akan pelan-pelang mengurangi volume impor daging sapi setiap tahun dan menaikkan impor sapi hidup setiap tahun," katanya.

Impor Sapi Hidup

Sudaryono mengatakan Presiden Prabowo Subianto sudah menyetujui amandemen Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2016 yang mengatur impor sapi hidup. Dengan kata lain, Kepala Negara telah menyetujui pengapalan sapi hidup dari Brasil yang notabenenya masih ada dalam daftar negara terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK.

Sudaryono berargumen Brasil sudah bebas dari PMK lantaran sudah tidak ada program vaksinasi PMK di Negeri Sambah. Oleh karena itu, Sudaryono meyakini Organisasi Kesehatan Hewan Dunia akan membebaskan Brasil dari status terjangkit PMK pada tahun ini atau tahun depan.

Selain itu, Sudaryono menilai tidak semua wilayah di Brasil memiliki sebaran wabah PMK. Menurutnya, revisi PP No. 4 Tahun 2016 akan melegalkan pengapalan sapi hidup dari Brasil dalam waktu dekat.

"Kenapa kami memilih Brasil untuk mendatangkan sapi hidup? Karena populasi sapi hidup di Brasil tinggi sekali atau hingga 200 juta ekor. Kalau kami meminta untuk mengirimkan 2 juta ekor ke dalam negeri saya kira tidak signifikan untuk negara ini," katanya.

Sudaryono mencatat pemerintah menargetkan impor sapi hidup untuk industri susu segar hingga 1,2 juta ekor dan industri sapi pedaging sekitar 800.000 ekor. Menurutnya, importasi 2 juta ekor sapi hidup akan hingga 2029.

Sementara itu, Sudaryono menargetkan total sapi hidup yang diimpor pada tahun ini mencapai 250.000 ekor. Angka tersebut lebih rendah sekitar 37,5% dari target yang diumumkan akhir tahun lalu sejumlah 400.000 ekor.

Sudaryono mengakui target volume impor sapi hidup sebanyak 2 juta ekor cukup ambisius. Namun, menurutnya, angka tersebut harus menjadi target untuk mencapai status swasembada dalam produksi daging sapi maupun susu sapi segar.

"Daripada kami hidup secukupnya tapi sampai kapanpun tidak akan swasembada daging sapi maupun susu sapi segar. Ini tentu langkah yang besar dan ambisius," katanya.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...