4 Industri Terancam Imbas Trump Kenakan Tarif Impor 32% ke Indonesia
Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menerapkan tarif timbal balik sebesar 32% terhadap impor dari Indonesia mulai bulan ini. Sebanyak 4 industri di Indonesia kian terancam imbas kebijakan Presiden AS Donald Trump itu.
President & CEO S. Asean International Advocacy & Consultancy (SAIAC) Asia Pacific, Middle East, Europe & America, Shaanti Shamdasani, mengatakan bahwa pada 2024, defisit perdagangan barang AS dengan Indonesia mencapai US$17,9 miliar atau meningkat 5,4% dibanding tahun sebelumnya.
Defisit yang terus membesar ini menjadi salah satu alasan utama di balik kebijakan tarif AS, yang bertujuan mengurangi ketimpangan perdagangan serta mendorong praktik perdagangan yang lebih seimbang.
“Indonesia sedang menjajaki perjanjian perdagangan baru untuk mendiversifikasi pasar ekspornya di tengah meningkatnya proteksionisme global,” demikian tertulis Shamdasani dalam keterangannya, Kamis (3/4).
Dalam keterangannya, Shamdasani optimistis Kementerian Perdagangan Indonesia akan menjaga stabilitas perdagangan nasional sambil memperluas pasar ekspor.
Demi mengurangi dampak tarif AS, Indonesia aktif merundingkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dengan negara-negara seperti Peru, Kanada, dan India.
Menurut analisis SAIAC, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di Indonesia kemungkinan menjadi salah satu faktor yang mendorong AS menerapkan tarif timbal balik terhadap ekspor Indonesia pada April 2025.
Pemerintah mewajibkan produk tertentu, seperti perangkat medis dan telepon pintar, memiliki kandungan lokal minimum agar dapat dipasarkan di Indonesia.
Sebagai contoh, sejak Juni 2021, Shamdasani menyebut lebih dari 5.400 produk perangkat medis impor dalam 79 kategori telah dikeluarkan dari sistem pengadaan publik Indonesia jika tidak memenuhi ambang batas kandungan lokal 40%.
Kebijakan serupa juga berlaku untuk telepon pintar yang harus memiliki setidaknya 40% komponen lokal agar dapat dijual di dalam negeri.
Meski TKDN bertujuan mendukung industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor, ia menilai kebijakan ini kerap dikritik oleh mitra dagang, termasuk AS, karena dinilai menghambat akses pasar.
“Tarif AS baru-baru ini mencerminkan ketegangan yang berlangsung dan menyoroti kompleksitas dalam menyeimbangkan kebijakan ekonomi dalam negeri dengan kewajiban perdagangan internasional,” katanya.
Industri yang Berpotensi Terpukul
Pengenaan tarif timbal balik sebesar 32% oleh Amerika Serikat pada April 2025 diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap beberapa sektor utama ekspor Indonesia. Industri-industri yang berkontribusi besar dalam perdagangan dengan AS berisiko mengalami penurunan daya saing dan permintaan pasar.
1. Industri Kelapa Sawit
Sebagai eksportir utama minyak kelapa sawit, Indonesia menghadapi tantangan besar akibat tarif baru ini. Daya saing minyak sawit di pasar AS kemungkinan akan tergerus, yang berpotensi mengurangi volume ekspor dan memengaruhi pendapatan sektor ini.
2. Industri Tekstil dan Pakaian
Produk tekstil dan pakaian jadi, termasuk pakaian rajut dan kaitan, merupakan komoditas ekspor utama ke AS. Kenaikan harga akibat tarif 32% dapat menekan permintaan, yang berimbas pada produsen dan tenaga kerja di sektor tekstil dan pakaian.
3. Industri Alas Kaki
Ekspor alas kaki Indonesia ke AS cukup signifikan, tetapi dengan tarif tinggi, produk Indonesia menjadi kurang kompetitif dibandingkan negara lain yang tidak terkena kebijakan serupa. Hal ini berisiko menurunkan pesanan dan pendapatan bagi pelaku industri.
4. Industri Karet
Indonesia juga mengekspor karet dalam jumlah besar ke AS. Tarif tambahan akan meningkatkan biaya bagi importir di AS. Hal ini berpotensi mengurangi permintaan dan menekan ekspor karet Indonesia.
“Peningkatan biaya dapat menyebabkan importir AS mencari pemasok alternatif, sehingga memengaruhi produksi dan lapangan kerja di sektor-sektor ini di Indonesia,” kata Shamdasani.
Bisa Tekan Ekonomi Indonesia
Pengenaan tarif impor kepada produk asal Indonesia oleh Amerika Serikat sebesar 32% berpotensi menekan arus perdagangan kedua negara dan menekan perekonomian Indonesia.
Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, mengatakan Indonesia termasuk salah satu negara di Asia Tenggara dengan tarif tertinggi setelah Vietnam, Thailand, dan Kamboja.
Ia menyebut perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat cukup konsisten dalam dua tahun terakhir. Pada Februari 2025, surplus perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$3,12 miliar, didorong oleh penurunan impor domestik akibat meningkatnya tekanan sosial ekonomi.
Namun, ia memperkirakan kebijakan ini berpotensi mengganggu surplus perdagangan Indonesia. Penurunan nilai ekspor bisa terjadi dalam beberapa bulan ke depan jika tidak ada kesepakatan bilateral antara kedua negara.
Selain itu, negara mitra dagang lain diperkirakan tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran AS. Cina, misalnya, ia menilai tidak berada dalam kondisi ekonomi yang memungkinkan ekspansi manufaktur secara cepat sebab berisiko memicu gelembung investasi di sektor industrinya.
“Vietnam dan India juga tidak dapat diandalkan karena keduanya bergantung pada konsumsi AS untuk tumbuh dan keduanya terkena tarif yang lebih tinggi daripada Indonesia,” kata Ezaridho dalam risetnya, Kamis (3/4).
