Wall Street Melesat Usai Trump Tunda Tarif hingga 90 Hari
Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street melonjak pada perdagangan saham Rabu (9/4). Kenaikan ini menjadi salah satu reli terbesar dalam sejarah karena Presiden Donald Trump mengumumkan peundaan sementara pengenaan tarif "timbal balik" yang lebih tinggi terhadap puluhan negara.
S&P 500 melesat 9,52% dan ditutup di level 5.456,90, menjadi lonjakan harian terbesar sejak krisis 2008 dan kenaikan ketiga terbesar sejak Perang Dunia II. Sedangkan Dow Jones Industrial Average melonjak 2.962,86 poin atau 7,87% ke 40.608,45, kenaikan tertinggi sejak Maret 2020.
Nasdaq Composite bahkan terapresiasi 12,16% dan ditutup di 17.124,97, mencetak lonjakan harian tertinggi sejak Januari 2001 dan menjadi hari terbaik kedua dalam sejarah indeks tersebut.
Volume perdagangan juga mencetak rekor. Sekitar 30 miliar saham berpindah tangan, menjadikannya hari tersibuk di Wall Street sejak data dicatat 18 tahun lalu.
Dalam unggahannya di Truth Social, Donald Trump menyatakan telah menyetujui jeda selama 90 hari atas tarif, termasuk penurunan signifikan tarif timbal balik sebesar 10% yang langsung berlaku. Namun, dalam pernyataan yang sama, Trump juga mengumumkan bahwa tarif terhadap Cina justru dinaikkan menjadi 125%.
Menteri Keuangan, Scott Bessent menjelaskan bahwa semua negara selain Cina akan kembali ke tarif dasar sebesar 10%, turun dari level yang lebih tinggi yang sempat mengguncang pasar. Namun, ia menegaskan jeda ini tidak berlaku untuk tarif sektoral.
Saham-saham yang sebelumnya terpukul akibat ketegangan dagang langsung memimpin reli pasar pada Rabu sore. Saham Apple melonjak lebih dari 15%, Nvidia hampir 19%, Walmart menguat 9,6%, dan Tesla melonjak lebih dari 22% usai pengumuman jeda tarif tersebut.
Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli menilai, kondisi harga dan sentimen saham yang sebelumnya sangat terpukul membuat pengumuman jeda 90 hari berhasil memicu lonjakan tajam di pasar.
"Namun tarif tidak akan hilang. Tingkat tarif Cina sekarang berada di wilayah tiga digit dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam 90 hari setelah jeda ini berakhir,” kata Crisafulli dikutip CNBC, Kamis (10/4).
Sebelum pengumuman jeda tarif 90 hari, kekhawatiran investor meningkat drastis akibat aksi saling balas antara Trump dan Cina. Situasi diperparah oleh keputusan Uni Eropa yang menyetujui penerapan tarif perdana terhadap AS, yang dijadwalkan mulai berlaku pada 15 April.
Namun, pasar mulai menunjukkan pergerakan positif pada sore hari. Sentimen membaik setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan akan mengambil peran utama dalam negosiasi tarif, yang memberi harapan akan pendekatan yang lebih terarah.
Di sisi lain, Trump mencoba meyakinkan pasar dengan menyebut bahwa sekarang adalah "waktu yang tepat untuk membeli," dalam unggahan di Truth Social sesaat setelah pembukaan pasar.
Pernyataan resmi mengenai jeda tarif disampaikan Trump pada pukul 1:18 siang waktu ET, saat Dow sudah menguat sekitar 350 poin. Hanya dalam hitungan detik setelah pengumuman, indeks langsung melonjak lebih dari 2.000 poin.
Dalam konferensi pers pada sore harinya, Trump menyatakan bahwa kekhawatiran para investor telah berlebihan dan menegaskan kembali optimisme terhadap kondisi pasar. "Saya pikir orang-orang melompat sedikit di luar batas. Mereka menjadi bersemangat, Anda tahu, mereka menjadi sedikit bersemangat, sedikit takut," kata Trump.
Kekhawatiran atas peluncuran tarif memicu aksi jual besar-besaran di pasar, menyebabkan kekalahan selama empat hari berturut-turut. Dalam periode tersebut, Dow Jones merosot lebih dari 4.500 poin, S&P 500 anjlok 12%, dan Nasdaq Composite turun lebih dari 13%, mencatat kerugian terbesar sejak pandemi Covid-19.
“Situasi ini memang membuka peluang terjadinya reli jangka pendek,” kata Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi di CFRA Research.
