PII: Tanpa Reindustrialisasi, RI Jadi Negara Maju Hanya Sebuah Mimpi

Image title
23 April 2025, 09:34
PII, ilham habibie, reindustrialisasi
Katadata
Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyoroti perkembangan sektor industri yang kian menyusut. Hal ini terjadi penurunan kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) dari 30% pada tahun 2000 menjadi hanya 19% pada 2024. Padahal, pemeritahan Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2045.

“Ciri negara maju memiliki industri yang kuat dan kelas menengah yang tebal. Kita punya industri tapi tidak kuat, dan kelas menengah berkurang sekitar 10 juta selama lima tahun terakhir,” ujar Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie dalam diskusi di Jakarta, Selasa (22/4).

Mirisnya lagi, Indonesia masih kekurangan jumlah insinyur tapi kesempatan kerjanya sangat terbatas karena sektor industrinya menyusut. Jumlah insinyur di Indonesia diperkirakan sekitar 2.670 orang per 1 juta penduduk. Angka ini masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Vietnam yang memiliki 9.000 insinyur per 1 juta penduduk dan Korea Selatan yang punya 25.000 insinyur per 1 juta penduduk.

“Meskipun ada masalah dengan job opportunity bagi insinyur, tapi PII terus mencetak para insinyur terbaik dan mendorong mereka berkarya di masa saja,” kata Ilham.

Namun, Ilham menyatakan bahwa Indonesia harus melakukan reindustrisasi dan mengatasi hambatan-hambatan yang memperkuat industri. Dia menilai, industrialisasi bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan yang tidak bisa diabaikan oleh negara manapun, termasuk Indonesia.

Meskipun pendekatan yang digunakan Amerika Serikat melalui perang dagang dapat menimbulkan perdebatan, terutama soal keadilan dan dampaknya terhadap mitra dagang lainnya, tetapi filosofi di baliknya tetap relevan, yakni negara tidak bisa menjadi kuat tanpa industri yang kuat.

"Menarik sekali kalau kita menganalisa, mengapa itu terjadi? Karena Amerika Serikat pun mau reindustrialisasi, karena dia mau mengembalikan industri yang tadinya sudah keluar, yang mau seolah-olah, caranya mungkin kita tidak sepakat, tapi filosofi di bagian itu adalah reindustrialisasi," jelasnya.

Menurutnya, Amerika Serikat menyadari bahwa tanpa fondasi industri yang kokoh, keberlangsungan kekuatan nasional menjadi rapuh. Untuk itu, melalui penerapan kebijakan tariflah Trump berupaya memperluas industrinya.

"Sekarang, Amerika Serikat, dia mau mengembalikan yang tadinya dia sudah outsource, dia mau mengembalikan dengan cara yang mungkin kita tidak sepakat, mungkin ada yang mengatakan itu salah, itu juga bukan win-win tapi win-lose gitu ya, seolah dia menang sendiri, dia mendominasi yang lemah," jelasnya.

Peningkatan Kualitas SDM

Putra mantan Presiden ketiga RI ini juga menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam proses reindustrialisasi. Uang atau kekayaan sumber daya alam tidak serta-merta menjamin keberhasilan industrialisasi jika tidak diiringi dengan pengembangan SDM yang kompeten, terutama di bidang teknik dan teknologi.

Dia mencontohkan negara-negara di Timur Tengah yang meskipun kaya secara finansial, namun belum mampu membangun industri yang kuat karena kurangnya tenaga ahli dan inovator lokal.

"Kita mau punya uang segudang juga enggak akan bisa kalau kita tidak punya SDM. Contoh mana? Negara-negara di Timur Tengah, mereka banyak sekali uangnya. Apakah dia punya industri? Kita langsung bisa jawab, enggak ada. Enggak ada yang sukses. Yang penting adalah manusia. Yang penting adalah orang yang punya keahlian, diantaranya insinyur," jelasnya.

Contoh lain datang dari Tiongkok. Dulu, produk-produk seperti motor dari negara tersebut sering dianggap kurang berkualitas. Namun kini, mobil-mobil buatan Tiongkok tak hanya mampu bersaing dari segi harga, tetapi juga dari sisi kualitas dan performa. Transformasi ini terjadi karena investasi besar-besaran dalam penguatan sektor industri dan SDM.

Bagi Indonesia, tujuan besar telah dicanangkan menjadi negara industri maju pada tahun 2045, bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan. Ilham menegaskan tanpa langkah konkret menuju reindustrialisasi, visi tersebut hanya akan menjadi mimpi.

"Tidak ada negara maju di dunia ini yang tidak punya industri. Kalau ada yang mengatakan bisa, menurut saya itu mimpi,” sebut Ilham.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...