Produksi Tumbuh, Mentan Amran Yakin Swasembada Beras Tahun Ini Tercapai
Menteri Pertanian Amran Sulaiman meyakini swasembada beras tahun ini akan tercapai. Hal ini disampaikan usai melihat data pertumbuhan produksi beras pada kuartal pertama tahun ini.
Badan Pusat Statistik memproyeksi produksi beras pada Januari-Maret 2025 naik 51,32% secara tahunan menjadi 8,61 juta ton. Sementara itu, total produksi beras pada paruh pertama tahun ini diperkirakan naik 11,14% menjadi 18,76 juta ton.
"Sektor pertanian jadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi atau naik 10,52%. Jadi, ini berita gembira untuk kita semua, namun saya tetap berdoa karena tidak boleh sombong," kata Amran di kantornya, Senin (5/5).
Untuk diketahui, swasembada merupakan status saat konsumsi sebuah barang dapat dipenuhi setidaknya 90% dari total permintaan. Namun, definisi swasembada yang dimaksud pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah pemenuhan seluruh permintaan barang tertentu dari dalam negeri.
Badan Pangan Nasional mendata rata-rata konsumsi beras nasional mendekati 2,6 juta ton per bulan. Dengan demikian, neraca produksi beras pada paruh pertama tahun ini mencapai 3,22 juta ton.
Mentan Amran menegaskan Perum Bulog telah menyerap beras lokal hingga 1,88 juta ton hingga pagi ini, Senin (5/5). Adapun, stok beras dalam Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai 3,51 juta ton.
Amran memperkirakan volume CBP akan mencapai 4 juta ton pada akhir bulan ini. Walau demikian, Bulog mencatat kapasitas gudang secara nasional hanya 3,8 juta ton.
"Sekarang kami sudah memerintahkan Bulog untuk menyewa gudang tambahan berkapasitas 1,1 juta ton untuk menampung serapan hasil produksi pertani. Stok CBP dapat menembus 4 juta ton karena serapan beras lokal harian mencapai 50.000 ton," katanya.
Di samping itu, Amran telah menginstruksikan Bulog untuk membangun gudang darurat di beberapa provinsi, seperti DI Aceh dan Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, kedua provinsi tersebut dipilih lantaran penambahan kapasitas melalui sewa gudang tidak akan cukup menyerap hasil produksi.
Sebelumnya, Direktur Utama Bulog Novi Helmy Prasetya mengungkapkan bahwa hingga pekan ini, Bulog baru mendapatkan pendanaan sebesar Rp 16,6 triliun. Angka tersebut setara dengan 47,42% dari prediksi anggaran program pengadan 3 juta ton gabah nasional oleh Komisi VI DPR senilai Rp 35 triliun.
"Selain dari pemerintah, kami juga mendapat pinjaman dari bank untuk memenuhi penugasan penyerapan 3 juta ton beras lokal ini," ujar Novi dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Senin (3/3).
Dengan demikian, kontribusi kas negara dalam program ini hampir mencapai 50%. Namun Novi tidak menjelaskan lebih lanjut terkait nilai kredit perbankan maupun kas Bulog yang akan dikucurkan dalam penugasan pemerintah tahun ini.
Dari sisi kapasitas penyimpanan, Sekretaris Perusahaan Bulog Arwakhudin Widiarso, menjelaskan bahwa total kapasitas gudang Bulog mencapai 3,8 juta ton. Namun hanya sekitar 1,8 juta ton yang tersedia karena stok beras pemerintah pada akhir tahun lalu mencapai 2 juta ton.
"Kapasitas gudang Bulog saat ini kurang untuk menyerap hasil panen raya. Kami telah menyiapkan perjanjian kerja sama untuk menyewa gudang tambahan jika diperlukan," kata Arwakhudin, Jumat (17/1).
