Nissan Berencana Tutup 7 Pabrik, PHK 11 Ribu Karyawan
Nissan mengumumkan rencana untuk menutup tujuh pabrik dan melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap 1o ribu karyawan.
Mengutip Reuters, pengumuman PHK terbaru ini akan membuat total pengurangan tenaga kerja produsen mobil tersebut menjadi sekitar 20 ribu pekerjaan yang merupakan 15% dari total karyawan. Nissan sebelumnya mengumumkan rencana untuk memangkas 9.000 karyawan.
Kinerja keuangan produsen mobil terbesar ketiga di Jepang ini memburuk dalam 12 bulan hingga Maret 2025. Laba operasi perusahaan turun 88% menjadi 69,8 miliar yen atau sekitar Rp 7,8 triliun.
Kinerja Nissan terpukul parah oleh melemahnya penjualan di AS dan Tiongkok. Perusahaan sempat melakukan pembicaraan merger dengan Honda gagal, dan baru-baru ini mengganti kepala eksekutifnya.
Seperti para pesaingnya, Nissan juga tertekan oleh tarif AS dan terancam oleh produsen kendaraan listrik Cina yang sedang naik daun di pasar-pasar di Asia Tenggara dan tempat lainnya.
CEO baru Ivan Espinosa menargetkan penghematan biaya total sekitar 500 miliar yen. Namun, ia menghadapi pekerjaan sulit.
"Hasil keuangan setahun penuh kami adalah peringatan. Kenyataannya sangat jelas. Biaya variabel kami meningkat. Biaya tetap kami lebih tinggi daripada yang dapat ditanggung oleh pendapatan kami saat ini," kata Espinosa dalam konferensi pers.
Nissan Tutup Pabrik
Nissan juga akan memangkas jumlah pabrik produksinya menjadi 10 dari 17 dan mengurangi kompleksitas suku cadang hingga 70%. Namun, tidak memberikan rincian pabrik mana yang diharapkan akan ditutup.
Analis mengatakan Nissan, membayar harga dari sikap perusahaan yang terlalu berfokus pada volume penjualan, dan menggunakan diskon besar-besaran untuk membuat mobil terus laku. Hal itu membuat perusahaan memiliki jajaran produk yang menua yang sekarang harus segera diperbarui.
Meski begitu, tampaknya tidak mungkin untuk mengharapkan perubahan haluan yang tiba-tiba . Pembuat mobil itu memperkirakan kerugian operasional sebesar 200 miliar yen pada kuartal pertama.
