Bangun Pabrik CT Scan, Kalbe Farma Incar Pasar Asia Tenggara

Andi M. Arief
2 Juni 2025, 16:40
CT Scan Kalbe Farma
Andi M. Arief/Katadata
CT scan Kalbe Farma
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Kalbe Farma Tbk berencana berencana memasok Computed Tomography atau CT Scan untuk pasar regional dalam waktu dekat. Hal tersebut disampaikan dalam peresmian pabrik CT Scan pertama di Asia Tenggara melalui cicit usahanya, PT Forsta Kalmedic Global.

Presiden Direktur Kalbe Farma, Bernadette Ruth Irawati Setiady, berniat mendirikan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan CT Scan besutan perusahaanya. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem industri CT Scan di dalam negeri.

"Pabrik ini merupakan yang pertama di antara negara anggota Asean. Mudah-mudahan kami bisa mengisi pasar CT Scan di negara-negara anggota Asean," kata Irawati di pabrik Frosta, Senin (2/6).

Statista memproyeksikan pasar alat diagnostik pencitraan mencapai US$ 1,33 miliar atau sekitar Rp 21,67 triliun pada tahun ini. Angka tersebut diproyeksi naik menjadi US$ 1,67 miliar atau Rp 27,21 triliun pada 2029.

Seperti diketahui, alat diagnostik pencitraan secara umum adalah CT Scan, Positron Emission Tomography atau PET Scan, dan Magnetic Resonance Imaging atau MRI. Kementerian Perindustrian menyatakan kebutuhan CT Scan di dalam negeri sejauh ini masih bergantung penuh pada produk impor.

Direktur Industri Permesinan dan Mesin Alat Pertanian Kemenperin, Solehan, mencatat nilai impor CT Scan memuncak pada 2022 atau hingga US$ 64,8 juta. Adapun nilai impor CT Scan pada tahun lalu mencapai US$ 48,9 juta.

Di sisi lain, Solehan memberikan sinyal agar Kalbe Farma masuk ke pasar Asia Tenggara mengingat tingginya biaya investasi CT Scan bagi rumah sakit. Berdasarkan Execdr, rentang harga CT Scan baru pada tahun lalu adalah US$ 285.000 sampai US$ 2,1 juta.

"Harga CT Scan ini memang mahal. Kalau dibandingkan dengan pembelian ranjang, sebuah rumah sakit bisa membeli ratusan tempat tidur. Maka dari itu, kemampuan industri alat kesehatan di dalam negeri mayoritas berteknologi rendah hingga menengah," kata Solehan.

Direktur Frosta, Yvone Astri Della Sijabat, memaparkan kapasitas produksi CT Scan pihaknya adalah 52 unit per tahun atau satu unit per minggu. Total waktu perakitan CT Scan di pabriknya antara tiga sampai empat hari, sementara proses pengujian barang memakan waktu tiga hari.

"Kami menyediakan fasilitas produksi ini untuk memenuhi semua kebutuhan CT Scan yang dibutuhkan di dalam negeri," katanya. 

Yvone menilai kapasitas produksi tersebut dapat naik dua kali lipat jika dibutuhkan. Sebab, Frosta telah menyediakan dua ruang pengujian di pabriknya yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Dia mengaku telah memasukkan CT Scan besutan pabriknya ke dalam tender CT Scan yang dibutuhkan rumah sakit milik pemerintah pusat maupun daerah. Kementerian Kesehatan mencatat pemerintah membutuhkan 306 CT Scan hingga 2027.

Dengan kata lain, Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN CT Scan buatan Frosta telah lebih dari 25%. Sebab, Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2025 mewajibkan pemerintah seluruh institusi tingkat pusat maupun daerah membeli produk dengan TKDN setidaknya 25%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...