Empat Investor Tertarik Bangun Pabrik Garam Rp 750 Miliar di Rote NTT

Andi M. Arief
11 Juni 2025, 14:26
Petugas berjalan di dekat mesin produksi garam di salah satu pabrik garam, Puloampel, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (10/1/2025). Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan pemerintah akan menghentikan impor garam konsumsi pada tahun 2025 dan lebih
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/nym.
Petugas berjalan di dekat mesin produksi garam di salah satu pabrik garam, Puloampel, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (10/1/2025). Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan pemerintah akan menghentikan impor garam konsumsi pada tahun 2025 dan lebih fokus pada peningkatan produksi dalam negeri.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah investor telah menyatakan minatnya untuk membangun Kawasan Industri Garam Nasional atau K-SIGN seluas 10.000 hektare di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Kawasan industri tersebut dibangun dalam rangka program swasembada garam.

Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menunjuk PT Garam untuk mengoperasikan pabrik milik negara berkapasitas 220.000 ton per tahun di K-SIGN. PT Gara, 

Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, mengaku telah ada tiga hingga empat investor yang menyatakan ketertarikan untuk mendirikan pabrik di K-SIGN Rote Ndao

Aksi korporasi tersebut dinilai menarik mengingat pemerintah akan menghentikan impor garam untuk sektor manufaktur mulai awal 2028 melalui Peraturan Presiden No. 17 Tahun 2025.

"Investor dari luar negeri juga ada yang menghubungi saya. Sebab, penutupan keran impor garam ini mengundang banyak investor untuk membangun pabrik di dalam negeri," kata Mose di Kantor KKP, Rabu (11/6).

Mose pun mengajak industri pengguna garam dan pengolah garam untuk membangun pabrik di K-SIGN. Sebab, pengapalan garam dari K-SIGN Rote Ndao ke industri akan membuat harga garam kebutuhan industri asal dalam negeri tidak kompetitif.

Mose menjelaskan mayoritas industri pengguna garam maupun pengolah garam saat ini masih berlokasi di Pulau Jawa. Alhasil, harga garam industri buatan lokal akan meningkat akibat biaya logistik nasional yang masih tinggi.

Kementerian Perhubungan mencatat biaya logistik masih berkontribusi 14,29% dari perekonomian nasional pada tahun lalu. Sementara itu, biaya logistik di Singapura hanya berkontribusi 8% dari roda perekonomian Negeri Singa.

Mose mencatat pihaknya akan mengoperasikan pabrik senilai Rp 750 miliar secepatnya akhir tahun ini di K-SIGN Rote Ndao. Pabrik tersebut akan dibangun dengan anggaran negara dan memiliki kapasitas 220.000 ton per tahun.

Dengan kata lain, Mose memprediksi kapasitas produksi pihaknya akan bertambah sekitar 30% pada tahun depan. Secara rinci, pabrik milik negara tersebut akan menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression atau MVR yang mempercepat proses penguapan air garam menjadi garam.

"Melihat efisiensi teknologi di pabrik di K-SIGN yang akan kami operasikan, kami harus mengubah proses produksi kami ke depan," ujarnya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, A. Koswara, mengatakan harga garam yang diterima pabrikan dari K-SIGN akan sama dengan garam impor. Tingginya efisiensi produksi garam dalam K-SIGN akan mengkompensasi biaya logistik nasional.

Koswara menyampaikan proses pengolahan garam di K-SIGN akan dilakukan mulai dari pengeringan sampai pemurnian. Alhasil, nilai garam asal K-SIGN telah tinggi yang akhirnya masuk harga garam tetap memenuhi nilai keekonomian setelah mempertimbangkan biaya logistik antar Pulau Rote dan Pulau Jawa.

"Selama ini, garam yang dikirimkan dari Nusa Tenggara Timur memiliki harga yang rendah karena berkualitas rendah. Alhasil, harga rakyat asal NTT tidak berdaya saing saat tiba di Pulau Jawa," ujarnya.

Koswara mengatakan pihaknya akan membangun kawasan industri khusus produksi garam seluas 10.000 hektare di Kabupaten Rote Ndao, NTT. Pemerintah akan membangun satu dari sepuluh zona dalam kawasan industri tersebut beserta infrastruktur dasarnya, seperti jalan, air baku, dan ketenagalistrikan.

"Dengan rencana tersebut, Kawasan Industri Garam Nasional di Rote bisa mensubstitusi garam impor yang mencapai 2,6 juta ton per tahun. Sebab, kapasitas produksi di sana bisa sampai 3 juta ton per tahun," katanya

Koswara menjadwalkan satu zona  yang dibangun pemerintah akan beroperasi pada akhir tahun ini. Zona lainnya akan disiapkan untuk investor dan diprediksi beroperasi penuh pada 2027.

Dia menghitung aktivitas Kawasan Industri Garam Nasional Rote akan mengurangi impor garam untuk sektor manufaktur sekitar 600.000 ton per tahun pada 2025-2027. Dengan demikian, volume impor garam untuk industri akan berkurang dari 2,6 juta ton pada tahun lalu, menjadi 1,8 juta ton pada tahun ini, dan berhenti impor pada 2028.

Koswara memproyeksi pengoperasian 10 zona dalam Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote akan menyediakan lapangan kerja bagi 26.000 orang. Namun Koswara tidak merinci lebih lanjut berapa tenaga kerja yang akan terserap di kawasan tersebut pada akhir tahun ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...