AS Bergabung dengan Israel Serang Tiga Fasilitas Nuklir Iran
Pasukan AS menyerang tiga lokasi nuklir Iran, yaitu Natanz, Esfahan, dan Fordow pada Sabtu malam (21/6). Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa enam bom penghancur bunker dijatuhkan di Fordow, sementara 30 rudal Tomahawk ditembakkan ke lokasi nuklir lainnya.
"Ini adalah keberhasilan yang luar biasa malam ini. Mereka harus segera berdamai atau mereka akan diserang lagi," kata Trump dikutip dari Reuters, Minggu (22/6).
Hal ini menegaskan keputusan AS untuk bergabung dengan Israel dalam perang melawan Iran. Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di Ruang Oval yang disiarkan televisi pada pukul 10 malam waktu setempat. CBS News melaporkan bahwa AS menghubungi Iran secara diplomatis pada hari Sabtu untuk mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan rencana AS dan tidak bertujuan untuk mengubah rezim.
Dalam pidato larut malamnya, NBC News mengatakan, Trump diperkirakan akan mengatakan bahwa saat ini ia tidak merencanakan serangan lebih lanjut di dalam Iran.
Reuters sebelumnya melaporkan pada hari Sabtu tentang pergerakan pesawat pengebom B-2, yang dapat diperlengkapi untuk membawa bom besar yang menurut para ahli akan dibutuhkan untuk menyerang Fordow, yang terkubur di bawah gunung di selatan Teheran. Seorang pejabat Iran, yang dikutip oleh kantor berita Tasnim, mengonfirmasi bahwa sebagian dari lokasi Fordow diserang oleh "serangan udara musuh."
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah serangan tersebut. Serangan tersebut terjadi saat Israel dan Iran terlibat dalam pertempuran udara selama lebih dari seminggu yang mengakibatkan kematian dan cedera di kedua negara.
Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan mengatakan bahwa mereka ingin menghilangkan peluang Teheran mengembangkan senjata nuklir. Iran mengatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Mayoritas Rakyat AS Tidak Setuju
Upaya diplomatik oleh negara-negara Barat untuk menghentikan permusuhan tidak berhasil. Dalam beberapa hari terakhir, anggota parlemen Demokrat dan beberapa anggota Republik berpendapat bahwa Trump harus menerima izin dari Kongres AS sebelum mengerahkan militer AS untuk pertempuran apa pun melawan Iran.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Republik Roger Wicker dari Mississippi memuji operasi tersebut tetapi memperingatkan bahwa AS sekarang menghadapi "pilihan yang sangat serius di masa depan."
Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Jim Risch, seorang Republikan, mengatakan bahwa meskipun AS melakukan pemboman besar-besaran terhadap Iran, Perang ini adalah perang Israel, bukan perang AS.
"Tidak akan ada pasukan Amerika di Iran," ujarnya.
Sementara itu seorang anggota parlemen Republik, Perwakilan Thomas Massie dari Kentucky, berkata bahwa ini tidak konstitusional.
Senator Demokrat Tim Kaine dari Virginia mengatakan publik AS "sangat menentang AS melancarkan perang terhadap Iran" dan menuduh Trump menunjukkan "keputusan yang buruk."
Perang ini bermula saat Israel melancarkan serangan pada 13 Juni, dengan mengatakan Iran hampir mengembangkan senjata nuklir. Israel secara luas dianggap memiliki senjata nuklir, yang tidak dikonfirmasi atau disangkalnya.
Setidaknya 430 orang telah tewas dan 3.500 orang terluka di Iran sejak Israel memulai serangannya, kata Nour News yang dikelola pemerintah Iran, mengutip kementerian kesehatan.
Di Israel, 24 warga sipil telah tewas oleh serangan rudal Iran, menurut otoritas setempat, dalam konflik terburuk antara musuh bebuyutan tersebut. Lebih dari 450 rudal Iran telah ditembakkan ke Israel, menurut kantor perdana menteri Israel.
Pejabat Israel mengatakan 1.272 orang telah terluka sejak dimulainya permusuhan, dengan 14 orang dalam kondisi serius.
