Industri Kaca Lokal Dibayangi Kelebihan Pasokan Usai Dua Pabrik Asing Beroperasi

Andi M. Arief
26 Juni 2025, 18:41
Menteri Investasi Rosan Roslani meresmikan operasional pabrik kaca terbesar di ASEAN milik PT KCC Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Batang Jawa Tengah pada Kamis (3/10).
Katadata/Andi M. Arief
Menteri Investasi Rosan Roslani meresmikan operasional pabrik kaca terbesar di ASEAN milik PT KCC Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Batang Jawa Tengah pada Kamis (3/10).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Industri kaca nasional menghadapi tekanan pasokan seiring mulai beroperasinya dua pabrik kaca besar milik investor asing pada awal tahun ini. Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) menyebutkan bahwa kondisi ini menyebabkan utilisasi industri anjlok tajam.

Ketua Umum AKLP, Yustinus Gunawan, mengatakan tingkat utilisasi industri kaca yang semula berada di angka 90% pada akhir tahun lalu turun menjadi sekitar 63% pada paruh pertama tahun ini. Meski pemerintah meningkatkan anggaran renovasi rumah, dampaknya terhadap perbaikan utilitas diperkirakan sangat terbatas, hanya mampu meningkatkan angka tersebut menjadi 65%.

“Utilitas produksi kaca nasional hanya akan meningkat bila volume kaca yang diekspor naik,” kata Yustinus kepada Katadata.co.id, Rabu (25/6).

Penurunan utilisasi ini terjadi setelah beroperasinya dua pabrik kaca baru, yakni PT KCC Glass Indonesia asal Korea Selatan di Batang, Jawa Tengah, dan PT Xinyi Glass Indonesia asal Cina di Batam, Kepulauan Riau. Masuknya dua pabrik tersebut meningkatkan kapasitas produksi industri kaca nasional sebesar 116% menjadi 2,7 juta ton per tahun.

Namun, peningkatan kapasitas ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan permintaan yang signifikan di dalam negeri. Yustinus memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah, permintaan kaca lokal hanya akan tumbuh sekitar 135.000 ton atau 5% tahun ini. Dari jumlah tersebut, peningkatan anggaran renovasi rumah hanya akan berkontribusi sekitar 54.000 ton.

“Peningkatan daya saing kaca nasional harus didukung oleh harga energi yang kompetitif. Pemerintah hanya perlu melaksanakan Keputusan Menteri ESDM No. 76 Tahun 2025 secara penuh,” ujarnya.

Kebijakan tersebut mengatur volume gas bumi yang dapat diakses industri dengan harga US$ 7 per MMBTU. Menurut Yustinus, pelaksanaan kebijakan ini akan menjadi kunci daya saing industri kaca di pasar ekspor.

Ia juga menyebut sektor otomotif sebagai salah satu pasar ekspor potensial yang dapat mendongkrak permintaan kaca nasional. Jika ekspor meningkat, utilitas industri kaca bisa naik tambahan 5%. Artinya, dengan kombinasi program renovasi rumah dan peningkatan kinerja ekspor, potensi utilitas industri kaca bisa menyentuh angka 72%.

“Perlu ditekankan bahwa kinerja ekspor semakin penting mengingat rasio utang terhadap perekonomian nasional hampir menembus 40%,” ujarnya.

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai Rp 7.130 triliun pada kuartal I 2025, naik 6,4% secara tahunan. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 30,6% per Maret 2025. Namun, dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menargetkan rasio utang pemerintah sebesar 40,14%, lebih tinggi dibanding APBN 2024 yang sebesar 38,26%.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyatakan bahwa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tetap mengikuti siklus yang telah ditetapkan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF).

“Prosesnya sudah jelas. Ada penyusunan KEM-PPKF, nanti ada RKP, lalu dibahas di DPR. Jadi kita ikuti saja prosesnya,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...