Mendag Pastikan Indonesia Tidak Terkena Tarif Impor Tambahan BRICS 10%
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan keputusan terakhir terkait tarif untuk produk lokal di pasar Amerika Serikat adalah 19%. Ia menyampaikan Indonesia tidak mendapatkan tambahan tarif sebesar 10% untuk produk dari negara anggota BRICS.
Menurut Budi sejauh ini belum ada penjelasan maupun aturan rinci terkait komoditas yang akan dikenakan tambahan tarif di pasar Amerika Serikat. Namun, penurunan tarif tersebut dinilai akan meningkatkan ekspor untuk 10 komoditas lokal yang selama ini masuk ke Negeri Hollywood.
Budi mengatakan kini Indonesia memiliki tarif yang lebih rendah dibandingkan negara yang jadi kompetitor dalam 10 komoditas unggulan tersebut. "Artinya, kita punya kesempatan lebih besar untuk menggenjot performa ekspor ke Amerika Serikat," kata Budi di Gedung DPR, Rabu (16/7).
Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo mencatat posisi tarif Indonesia kini sudah lebih kompetitif dibandingkan negeri jiran, seperti Thailand (36%), Laos (40%), Malaysia (25%), dan Vietnam (20%). Budi menampik wacana bahwa tarif sebesar 19% hanya berlaku untuk tiga komoditas, yakni elektronik, minyak sawit, dan tekstil.
Menurut Budi perjanjian dagang terkait tarif tersebut berlaku untuk semua jenis komoditas. Salah satu syarat penurunan tarif dari 32% menjadi 19% adalah peningkatan volume impor dari Amerika Serikat. Karena itu, pemerintah telah meniadakan bea masuk produk asal Negeri Paman Sam.
Budi tidak menjelaskan kapan pembebasan bea masuk tersebut akan mulai berlaku. Namun, salah satu komoditas yang akan diimpor adalah produk-produk pertanian senilai US$ 4,5 miliar atau Rp 73 triliun per tahun.
"Akan ada peraturan resmi yang menjelaskan ketentuan tarif setiap komoditas lebih rinci. Hari kami kami akan bertemu dengan Kementerian Pertanian Amerika Serikat membahas ini," katanya.
Di samping itu, ia memberikan sinyal tarif yang diberikan pada produk lokal di pasar Amerika Serikat dapat lebih rendah dari 19%. "Kita lihat ya nanti tarif akhirnya jadi berapa persen," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Bidang Perdagangan Apindo, Anne Patricia Sutanto, mendorong pemerintah untuk tetap berusaha menekan tarif impor Amerika Serikat (AS) untuk barang Indonesia. Dia mengatakan pemerintah masih ada waktu negosiasi lantaran penambahan tarif mulai berlaku bulan depan, Jumat (1/8).
Anne mengimbau pemangku kepentingan untuk terus mencermati posisi tarif negara kompetitor Indonesia hingga bulan depan. Menurut Anne, pemerintah negara pesaing masih melakukan proses negosiasi dengan kabinet Presiden Amerika Serikat Donald J Trump.
"Perlu dipahami bahwa negosiasi masih terus berlangsung dan posisi tarif ini masih mungkin berubah dan belum final, sehingga masih ada ruang untuk bisa bernegosiasi," kata Anne kepada Katadata.co.id, Rabu (16/7).
