Apindo Soroti Rendahnya Lapangan Kerja, Minta Pemerintah Benahi Fokus Investasi
Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menilai penciptaan lapangan kerja pada paruh pertama tahun ini masih kurang. Turunnya efisiensi investasi diduga menjadi pendorong utama rendahnya penciptaan lapangan kerja.
Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani menilai setiap tahun hampir 3 juta angkatan kerja baru membutuhkan lapangan kerja. Shinta mencatat korban pemutusan hubungan kerja atau PHK pada paruh pertama ini mencapai sekitar 150.000 orang.
"Kekhawatiran utama kami adalah penciptaan lapangan kerja yang rendah. Banyak calon pekerja menunggu kesempatan kerja, sementara lowongan kerja sangat terbatas. Belum lagi gelombang PHK sejak awal tahun ini," kata Shinta di kantornya, Selasa (29/7).
Kementerian Investasi mendata total lapangan kerja baru pada Januari-Juni 2025 akibat investasi adalah 1,25 juta orang. Dengan demikian, setidaknya masih ada sekitar 1,85 juta angkatan kerja yang masih mencari kerja pada paruh kedua tahun ini.
Shinta menilai minimnya lapangan kerja tersebut disebabkan oleh bergesernya fokus investasi dari industri padat karya menjadi industri padat modal. Selain itu, dampak investasi terhadap perekonomian nasional cenderung semakin rendah.
Shinta mencatat ICOR Indonesia saat ini adalah 6,0 poin. ICOR adalah ukuran yang digunakan untuk menilai efisiensi investasi. Dengan begitu, roda ekonomi di dalam negeri saat ini hanya akan bertambah satu poin jika ada tambahan investasi sebanyak enam poin.
Shinta menjelaskan kecenderungan naiknya angka ICOR ditemukan dari bertambahnya biaya investasi dalam pembukaan lapangan kerja. Kementerian Investasi mendata setiap pembukaan lapangan kerja membutuhkan investasi senilai Rp 748,41 juta pada Januari-Juni 2025. Angka tersebut lebih besar 10,47% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp 677,44 juta per lapangan kerja.
"Ada kecenderungan ICOR Indonesia naik, tapi yang pasti ICOR belum bisa turun saat ini. Ini yang kami coba kawal supaya ICOR bisa lebih rendah. Target ICOR kami adalah 4,0, saat ini ICOR Indonesia adalah 6,0," kata Shinta.
Ia pun menjelaskan peningkatan ICOR membuat jumlah pembukaan lapangan kerja semakin minim. Menurut Shinta setiap investasi senilai Rp 1 triliun dapat membuka sekitar 4.000 lapangan kerja pada 2015.
Lebih jauh ia mengatakan, nilai investasi yang sama hanya dapat membuka 1.000 lapangan kerja saat ini. Karena itu, Shinta mengusulkan agar pemerintah memberikan paket insentif fiskal kepada pengusaha di sektor padat karya.
Beberapa insentif yang dimaksud adalah pembebasan bea masuk bahan baku tertentu, pembebasan Pajak Pertambahan Nilai atas bahan baku tertentu, dan Pajak Penghasilan Perusahaan Ditanggung Pemerintah.
Di sisi lain, Shinta meyakini pembukaan lapangan kerja di industri padat karya dapat naik pada paruh kedua tahun ini. Menurutnya, produk Indonesia harus memiliki tarif ke pasar Amerika Serikat dibandingkan Vietnam, Pakistan, dan Bangladesh.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump menetapkan tarif produk asal Indonesia sebesar 19% ke negaranya. Adapun, produk asal Bangladesh dikenakan tarif hingga 35%, Pakistan sekitar 29%, dan Vietnam sebesar 20%.
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani memproyeksikan ada potensi pembukaan lapangan kerja sebesar 1,3% dari posisi saat ini. Kementerian Perindustrian mendata total tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil mencapai 3,97 juta orang.
"Sektor-sektor komoditas unggulan Indonesia yang diekspor ke Amerika Serikat adalah produk industri padat karya. Penurunan tarif akan membuat produk lokal kompetitif dan membuat serapan tenaga kerja dapat naik sekitar 1,3% dari posisi saat ini," katanya.
