Tarif Impor AS 19% Diprediksi Dongkrak Ekspor Furnitur Dua Kali Lipat

Andi M. Arief
30 Juli 2025, 13:25
Perajin menyelesaikan pembuatan meja rotan di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Rabu (28/5/2025).
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Perajin menyelesaikan pembuatan meja rotan di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Rabu (28/5/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI memproyeksikan tarif 19% bagi produk lokal ke Amerika Serikat dapat mendatangkan investasi senilai US$ 1 miliar. Sebab, rendahnya tarif tersebut dapat menggenjot nilai ekspor menjadi dua kali lipat sekitar US$ 5 miliar pada 2028.

Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menilai penarikan investasi asing penting agar potensi peningkatan pangsa pasar terealisasi. Sebab, 80% pelaku industri furnitur memiliki skala kecil yang belum dapat memenuhi permintaan ekspor.

Sobur menghitung satu pabrik furnitur skala menengah-besar dapat mendatangkan dana segar hingga US$ 100 juta. Angka tersebut dapat membuka lapangan kerja untuk maksimum 5.000 orang.

"Jika Indonesia dapat menarik 10 perusahaan, berarti ada investasi baru senilai US$ 1 miliar dan pembukaan lapangan kerja untuk 50.000 orang," kata Sobur kepada Katadata.co.id, Rabu (30/7).

Sobur mengatakan peningkatan peningkatan ekspor dimungkinakn lantaran tarif produk lokal di Negeri Paman Sam lebih rendah dari Vietnam dan Cina. Untuk diketahui, tarif produk lokal ke Amerika Serikat adalah 19%, sedangkan Vietnam sebesar 20% dan Cina hingga 30%.

Sobur menyampaikan hambatan utama ekspor furnitur ke Amerika Serikat adalah birokrasi investasi dan mahalnya biaya logistik. Karena itu, Sobur menilai keunggulan tarif tidak otomatis menaikkan pangsa pasar furnitur lokal di Amerika Serikat.

Dia mengingatkan bahwa industri furnitur di Vietnam telah berhasil memanfaatkan perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Secara rinci, Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump secara khusus meningkatkan tarif pada produk asal Cina sebesar 30% pada 2018.

Alhasil, Sobur mencatat nilai ekspor furnitur asal Negeri Naga Biru naik dari US$ 3,9 miliar pada 2018 menjadi US$ 10,7 miliar pada 2022. Pada saat yang sama, pangsa pasar furnitur lokal di Amerika Serikat stabil sebesar 5%.

"Vietnam adalah contoh dalam memaksimalkan keunggulan tarif dengn kemudahan berusaha berupa biaya produksi rendah dan efisiensi transportasi dalam pelabuhan," katanya.

Sobur menyampaikan salah satu keberhasilan Vietnam dalam peningkatan pangsa pasar furnitur di Amerika Serikat adalah kecepatan birokrasi investasi. Menurutnya, izin investasi di Vietnam dapat terbit sekitar 45 hari, sedangkan di dalam negeri bisa mencapai 12 bulan.

Karena itu, Sobur mengatakan sejauh ini belum ada pelaku industri furnitur asal Cina maupun Vietnam yang berniat merelokasi pabriknya ke dalam negeri. Selain itu, Sobur menilai biaya utilitas kawasan industri nasional tidak kompetitif.

"Jika Indonesia mampu menarik investor relokasi, penciptaan lapangan kerja langsung bisa mencapai puluhan ribu dan pangsa pasar AS berpotensi naik dari 5% menjadi 8–10% dalam 3 tahun," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...