Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Konsumsi Skincare Jadi Salah Satu Pendorongnya

Andi M. Arief
6 Agustus 2025, 13:17
Refleksi perawat melakukan perawatan kulit wajah pasien di Calysta Skincare Clinic, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/7/2020). Klinik tersebut menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19 melalui droplet maupun aerosol yang dihasilkan dari t
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww.
Refleksi perawat melakukan perawatan kulit wajah pasien di Calysta Skincare Clinic, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/7/2020). Klinik tersebut menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19 melalui droplet maupun aerosol yang dihasilkan dari tindakan medis.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perindustrian atau Kemenperin menyatakan salah satu pendorong pertumbuhan perekonomian kuartal kedua tahun ini adalah naiknya pengeluaran produk perawatan kulit atau skincare. Peningkatan konsumsi salah satu varian kosmetik tersebut diduga dimulai pasca Lebaran 2025 atau awal kuartal kedua.

Direktur Industri Hilir dan Farmasi Kemenperin, Tri Ligayanti, memproyeksikan tren pertumbuhan konsumsi kosmetik akan berlanjut hingga akhir tahun. Dengan demikian, pasar industri kosmetik tahun ini diperkirakan mencapai US$ 9,7 miliar atau Rp 158,7 triliun.

Tri mengatakan, konsumsi kin care terutama meningkat pada momen Lebaran dan promosi di awal kuartal kedua yaitu April 2025.

"Industri kosmetik yang masuk dalam kategori Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia tumbuh susut hingga 5,91% tahun lalu. Diharapkan industri kosmetik dapat tumbuh positif pada tahun ini seiring peningkatan tren konsumsi," kata Ligayanti kepada Katadata.co.id, Rabu (6/8).

Ligayanti menemukan gaya hidup masyarakat turut berkontribusi dalam peningkatan konsumsi skincare pada April-Juni 2025. Menurutnya, hal tersebut didorong oleh meningkatnya inovasi produk, sertifikasi halal, dan pertumbuhan lokapasar.

Dengan demikian, Ligayanti menyampaikan pasar kosmetik di luar Pulau Jawa terlihat naik secara tahunan sepanjang kuartal kedua tahun ini. Peningkatan konsumsi secara khusus terjadi pada masyarakat berpendapatan menengah bawah dan menengah.

Karena itu, Ligayanti melihat peluang investasi baru dari dalam negeri di industri kosmetika cukup besar seiring pertumbuhan pasar. "Peluang investasi baru besar, khususnya untuk produk lokal dan halal," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 sebesar 5,12% secara tahunan (year-on-year), naik dari 5,05% pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja positif di hampir seluruh lapangan usaha dan sebagian besar komponen pengeluaran.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Ekspor Barang dan Jasa yang naik 10,67%. Komponen lain yang turut menopang pertumbuhan adalah Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 7,82%, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,99%, dan Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97%.

Namun, bila dibandingkan kuartal sebelumnya, laju pertumbuhan tercatat melambat. Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.947 triliun, sementara atas dasar harga konstan tercatat Rp 3.396,3 triliun.

“Pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan kuartal I 2025 atau secara kuartalan tumbuh 4,04%,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers, Selasa (5/8). Angka ini lebih rendah dibanding kuartal I yang mencatatkan pertumbuhan 4,87% secara kuartalan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...