Ekspor CPO Tahun Ini Diprediksi Stagnan di Tengah Pelemahan Ekonomi Global

Andi M. Arief
6 Agustus 2025, 13:29
Pengendara melintasi di dekat buah kelapa sawit yang baru dipanen di Nagari Ketaping, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (15/4/2025). Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar mencatat untuk pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawi
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/agr
Pengendara melintasi di dekat buah kelapa sawit yang baru dipanen di Nagari Ketaping, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (15/4/2025). Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar mencatat untuk pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada awal bulan April 2025 mencapai harga Rp3.828 per kilogram yang merupakan harga tertinggi di Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki memproyeksikan volume ekspor minyak sawit mentah atau CPO tahun ini akan stagnan. Hal tersebut disebabkan oleh perekonomian global yang belum membaik.

Dana Moneter Internasional atau IMF telah mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 3,3% menjadi 3% pada Juni 2025. Sebab, pertumbuhan volume perdagangan global diprediksi hanya naik 1,7% sepanjang 2025.

"Hal ini mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara importir CPO yang akhirnya menurunkan volume impor CPO dari Indonesia," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Rabu (6/8)

Walau demikian, Eddy meramalkan volume ekspor tahun ini tidak akan lebih rendah dari capaian tahun lalu. Berdasarkan data Gapki, volume ekspor CPO nasional 2024 lalu susut 8,31% secara  tahunan menjadi 29,53 juta ton.

Menurutnya, ekspor CPO nasional didorong oleh penurunan harga di pasar ekspor sejak April 2024. Investing mendata rata-rata harga CPO di pasar global di atas US$ 1.000 per ton pada kuartal pertama tahun ini dan susut ke kisaran US$ 900 sampai US$ 1.000 ton pada kuartal kedua.

Eddy menyampaikan harga CPO pada Januari-Maret 2025 menjadi yang tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya, khususnya minyak bunga matahari dan minyak kedelai. Dengan demikian, sebagian negara importir CPO telah memindahkan pembelian ke minyak nabati lain pada periode tersebut.

Dia menilai penurunan harga CPO pada April-Juni telah mendorong performa ekspor. Badan Pusat Statistik mendata volume ekspor CPO pada paruh pertama tahun ini berhasil naik 2,69% secara tahunan menjadi 11 juta ton.

"Mulai pertengahan April 2025, harga CPO sudah di bawah minyak bunga matahari dan minyak kedelai," katanya.

Di sisi lain, Eddy menilai ekspor CPO ke Uni Eropa berpotensi naik 30% setelah  adanya Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa atau IEU-CEPA. Pasalnya, dalam  IEU-CEPA sudah terdapat pengakuan aspek keberlanjutan CPO Indonesia.

Eddy mengatakan Eropa merupakan salah satu pasar ekspor utama CPO nasional sekitar 3 juta ton per tahun. Pengakuan aspek keberlanjutan di IEU-CEPA akan membuat ekspor CPO ke Eropa tidak akan terhalang oleh Undang-Undang Anti Deforestasi Uni Eropa atau EUDR.

"Kalau informasi pengakuan keberlanjutan CPO lokal oleh Uni Eropa benar, kemungkinan volume ekspor ke Eropa bisa naik. Rasanya tidak bisa jadi 5 juta ton, kemungkinan masih antara 3,5 juta sampai 4 juta ton per tahun," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Rabu (6/8).

Di samping itu, Eddy menilai volume ekspor CPO ke Eropa hanya dapat naik maksimum sekitar 30% lantaran pasar minyak nabati Benua Biru tersebut telah terbentuk. Pembentukan pasar itu terjadi saat pemerintah melarang pabrikan mengekspor CPO pada 2022.

Seperti diketahui, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 22 Tahun 2022 yang melarang ekspor CPO dan turunannya. Langkah tersebut diambil dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga minyak goreng di dalam negeri yang sempat menyentuh Rp 28.000 per liter.

Permendag No. 22 Tahun 2022 berlaku pada April 2022   sebelum akhirnya dicabut akhir Mei 2022 melalui kebijakan kewajiban pasar domestik atau DMO. Eddy menilai jangka waktu tersebut digunakan pelaku industri di Eropa untuk meningkatkan kemandirian minyak nabati.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...