5 Kereta Anjlok dalam Dua Tahun, Pakar Transportasi Soroti Fungsi Kemenhub
Dalam dua tahun terakhir, setidaknya terdapat lima peristiwa kereta anjlok, baik pada kereta jarak jauh maupun kereta jarak dekat seperti KRL. Ketua Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas, menyatakan bahwa rangkaian peristiwa ini mengindikasikan adanya persoalan sistemik yang terganggu atau kurang berfungsi secara optimal, terutama dari sisi regulator.
“Saya tidak tahu sejauh mana fokus dari Kementerian Perhubungan terhadap isu keselamatan. Kita bisa bertanya, apakah dana pemeliharaan dari pemerintah kepada KAI sudah dibayar atau belum. Jangan-jangan kurang terpelihara karena memang pemerintah belum mengalokasikan dana pemeliharaan,” ujarnya kepada Katadata, Rabu (6/8).
Hal senada di katakan pakar transportasi Djoko Setijowarno. Dia mengatakan perlu evaluasi apakah anggaran keselamatan masih ada, atau ikut dipangkas
"Andai dipangkas, bukan salah Presiden, tp kesalahan pada Menhub yg tdk menginformasiksn pentingnya keselamatan transportasi," ujarnya.
Dia mengatakan Menhub memiliki para pembantu eselon 1 yg memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, seperti Dirjen dan Staf Ahli. Belum lagi ditambah Staf Khusus dan Tenaga Ahli Mereka bisa diminta masukannya agar anggaran keselamatan di Kemenhub tidak ikut dipangkas demi efisiensi. Lantas, masukan itu disampaikan ke Presiden dan Menteri Keuangan.
"Secara umum, tupoksi Kemenhub hanya dua, yaitu keselamatan dan pelayanan," ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Forum Transportasi Jalan & Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana. Ia mendorong pemerintah untuk memberikan dana Infrastructure Maintenance and Operation (IMO) yang memadai kepada KAI agar sistem deteksi dan pengawasan prasarana dapat dilakukan secara lebih intensif.
“Indonesia juga harus mulai melakukan banyak modernisasi prasarana, terutama sistem persinyalan dan perpindahan jalur (wesel), serta untuk memperkuat (upgrade) lintasan jalur rel,” ujarnya saat dihubungi Katadata.
Aditya juga menekankan bahwa sistem pemantauan dan pengawasan KA perlu ditingkatkan. Menurutnya, hal ini bisa dilakukan sembari menunggu hasil penyelidikan kecelakaan kereta.
“Peningkatan pengawasan ini dilakukan untuk mencegah terulangnya hal serupa, karena dalam banyak kasus, KA anjlok karena faktor prasarana,” ucapnya.
Faktor Penyebab Kereta Anjlok
Aditya menjelaskan bahwa secara umum, kereta anjlok disebabkan oleh tiga faktor: prasarana, sarana, alam, dan manusia.
Faktor prasarana bisa berupa malfungsi jalur rel, kerusakan pada peralatan wesel (alat pemindah jalur), atau adanya benda asing di sekitar jalur rel. Masalah ini juga bisa muncul karena kondisi rel yang buruk, seperti rel patah, rel melengkung akibat pemuaian karena panas matahari, atau penambat rel yang terlepas.
“Faktor sarana dapat berupa kondisi rangka bawah dan roda kereta yang kurang baik. Sedangkan faktor manusia juga bisa berpengaruh, misalnya kecepatan kereta yang melebihi batas di titik-titik rawan seperti area rawan longsor atau titik wesel perpindahan jalur,” ucapnya.
Terkait faktor alam, Aditya menyebut pengaruhnya bisa muncul dari pergeseran rel akibat pergerakan tanah, banjir, atau longsor. Namun, menurutnya, dalam dua peristiwa anjlok yang terjadi di Pegadenbaru dan Jakarta Kota, penyebabnya bukan berasal dari faktor alam.
“Karena kejadiannya ada di area emplasemen stasiun dan dalam kondisi cuaca yang baik,” katanya.
Jika penyebab utamanya adalah faktor prasarana, maka diperlukan perawatan dan pemantauan prasarana yang lebih intensif dan detail. Misalnya, deteksi rel melengkung akibat pemuaian saat musim kemarau, serta pemantauan intensif di musim hujan pada titik-titik rawan bencana dan wesel di area stasiun.
Jika penyebabnya adalah faktor sarana, maka perlu dilakukan proses penjaminan kelaikan sarana, terutama pada bagian rangka bawah dan roda kereta.
Sementara jika penyebabnya adalah pelanggaran batas kecepatan, maka diperlukan upaya yang lebih serius untuk meningkatkan kedisiplinan dan kompetensi awak kereta.
