Pemerintah Siapkan Insentif Baterai Nikel Agar Harganya Bersaing dengan LFP
Pemerintah akan memberikan insentif untuk pengembangan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) agar harganya bisa bersaing dengan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP). Pasalnya, saat ini harga baterai NMC lebih mahal dibandingkan LFP.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Muhammad Rachmat Kaimuddin, mengatakan pemerintah memberikan insentif karena Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia.
"Kami ingin harga EV NMC dan LFP sama, sehingga pasar yang menentukan pilihan,” kata Rachmat di Jakarta, Rabu (13/8).
Secara teknis, NMC memiliki kepadatan energi lebih tinggi namun biaya produksi lebih mahal, sedangkan LFP lebih murah dan tahan lama, meski dengan kepadatan energi lebih rendah.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan, menambahkan bahwa kebijakan insentif ini sejalan dengan rencana promosi investasi industri baterai nikel. Menurutnya, masa pembentukan pasar EV akan berakhir tahun ini, seiring rencana penghentian izin impor EV utuh (completely built up/CBU) pada Desember 2025.
Saat ini, mayoritas EV di pasar domestik menggunakan baterai LFP karena harganya lebih terjangkau. Sementara itu, EV NMC banyak ditemukan di segmen premium karena kepadatan energinya lebih tinggi. Nurul memperkirakan, permintaan untuk EV kelas atas akan mulai tumbuh setelah pasar domestik lebih matang.
“Kalau EV NMC masuk di awal pembentukan pasar, resikonya besar. Tapi setelah segmentasi terbentuk, permintaan EV kelas atas akan muncul dengan sendirinya,” jelasnya.
Nurul mengungkapkan, pemerintah akan mulai fokus menarik investor baterai NMC pada awal tahun depan, bersamaan dengan upaya mendorong produsen EV membangun fasilitas produksi lokal. Strategi ini diharapkan memberi kepastian pasar bagi investor NMC, yang sebagian besar produknya akan diekspor ke pasar global.
“Kami akan membangun minat investasi baterai NMC dengan insentif fiskal dari Kementerian Keuangan, ditambah insentif non fiskal lainnya,” katanya.
Indonesia akan Produksi Baterai FLP
Namun demikian, Rachmat mengatakan, pemerintah berencana untuk mengembangkan baterai FLP disamping NMC. Pasalnya, kedua jenis baterai itu memiliki permintaan yang kuat di pasar global.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Muhammad Rachmat Kaimuddin, menjelaskan mayoritas baterai EV produksi dalam negeri akan diekspor, mengingat kapasitas produksi mobil nasional masih kecil dibanding dunia.
"Produksi mobil nasional tahun lalu sekitar 1,4 juta unit atau 2% dari produksi global yang mencapai 80 juta unit per tahun. Jadi, nikel yang kita olah menjadi baterai EV sebagian besar akan diekspor," ujarnya.
Rachmat menilai persaingan teknologi antara NMC dan LFP masih berlangsung, sehingga pemerintah tetap akan mengolah kedua jenis baterai tersebut di dalam negeri.
