Pemerintah Siapkan Insentif Baterai Nikel Agar Harganya Bersaing dengan LFP

Andi M. Arief
13 Agustus 2025, 16:54
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Rachmat Kaimuddin menyampaikan paparan pada acara Kumparan New Energy Vehicle Summit 2025 di Jakarta, Selasa (6/5/2025). Acara tersebut merupa
Katadata/Fauza Syahputra
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Rachmat Kaimuddin menyampaikan paparan pada acara Kumparan New Energy Vehicle Summit 2025 di Jakarta, Selasa (6/5/2025). Acara tersebut merupakan forum bagi pemangku kepentingan untuk membahas inovasi teknologi, kebijakan dan investasi ramah lingkungan yang mendorong percepatan dekarbonisasi dan pertumbuhan ekonomi hijau.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah akan memberikan insentif untuk pengembangan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) agar harganya bisa bersaing dengan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP). Pasalnya, saat ini harga baterai NMC lebih mahal dibandingkan LFP.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Muhammad Rachmat Kaimuddin, mengatakan pemerintah memberikan insentif karena Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia.

"Kami ingin harga EV NMC dan LFP sama, sehingga pasar yang menentukan pilihan,” kata Rachmat di Jakarta, Rabu (13/8).

Secara teknis, NMC memiliki kepadatan energi lebih tinggi namun biaya produksi lebih mahal, sedangkan LFP lebih murah dan tahan lama, meski dengan kepadatan energi lebih rendah.

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan, menambahkan bahwa kebijakan insentif ini sejalan dengan rencana promosi investasi industri baterai nikel. Menurutnya, masa pembentukan pasar EV akan berakhir tahun ini, seiring rencana penghentian izin impor EV utuh (completely built up/CBU) pada Desember 2025.

Saat ini, mayoritas EV di pasar domestik menggunakan baterai LFP karena harganya lebih terjangkau. Sementara itu, EV NMC banyak ditemukan di segmen premium karena kepadatan energinya lebih tinggi. Nurul memperkirakan, permintaan untuk EV kelas atas akan mulai tumbuh setelah pasar domestik lebih matang.

“Kalau EV NMC masuk di awal pembentukan pasar, resikonya besar. Tapi setelah segmentasi terbentuk, permintaan EV kelas atas akan muncul dengan sendirinya,” jelasnya.

Nurul mengungkapkan, pemerintah akan mulai fokus menarik investor baterai NMC pada awal tahun depan, bersamaan dengan upaya mendorong produsen EV membangun fasilitas produksi lokal. Strategi ini diharapkan memberi kepastian pasar bagi investor NMC, yang sebagian besar produknya akan diekspor ke pasar global.

“Kami akan membangun minat investasi baterai NMC dengan insentif fiskal dari Kementerian Keuangan, ditambah insentif non fiskal lainnya,” katanya.

Indonesia akan Produksi Baterai FLP

Namun demikian, Rachmat mengatakan, pemerintah berencana untuk mengembangkan baterai FLP disamping NMC. Pasalnya, kedua jenis baterai itu memiliki permintaan yang kuat di pasar global.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Muhammad Rachmat Kaimuddin, menjelaskan mayoritas baterai EV produksi dalam negeri akan diekspor, mengingat kapasitas produksi mobil nasional masih kecil dibanding dunia.

"Produksi mobil nasional tahun lalu sekitar 1,4 juta unit atau 2% dari produksi global yang mencapai 80 juta unit per tahun. Jadi, nikel yang kita olah menjadi baterai EV sebagian besar akan diekspor," ujarnya.

Rachmat menilai persaingan teknologi antara NMC dan LFP masih berlangsung, sehingga pemerintah tetap akan mengolah kedua jenis baterai tersebut di dalam negeri. 


Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...