Ekosistem Terganggu, BUMN Pangan Nilai Swasembada Gula Sulit Dicapai
PT Sinergi Gula Nusantara atau Sugar Co menyatakan akan sulit meraih target swasembada gula pada 2030 seperti tertuang dalam Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2023. Sebab, operasi pabrik BUMN tersebut berpotensi berhenti dalam waktu dekat atau di tengah-tengah musim giling tahun ini akibat minimnya serapan tetes tebu atau molases.
Direktur Keuangan Sugar Co, Hariyanto, mengaku telah menyampaikan ke para petani tebu bahwa pihaknya akan menghentikan produksi. Sebab, tangki penyimpanan tetes tebu di mayoritas pabrik Sugar Co akan penuh dalam hitungan hari.
Walau demikian, Hariyanto mengatakan pihaknya lebih mengkhawatirkan efek jangka panjang berhentinya penyerapan tetes tebu saat ini.
"Secara jangka panjang, daya tarik petani dalam menanam tebu akan turun. Kondisi saat ini membuat koreksi terhadap industri gula terlalu besar untuk menjaga pencapaian target Perpres No. 40 Tahun 2023," kata Hariyanto di Jakarta Selatan, Rabu (27/8).
Untuk diketahui, tetes tebu merupakan limbah dari proses produksi gula. Mayoritas tetes tebu digunakan sebagai bahan baku beberapa industri, seperti etanol, bumbu makanan, farmasi, dan kosmetik.
Hariyanto mengatakan desain mesin produksi di seluruh pabriknya adalah produsen. Karena itu, tangki penyimpanan tetes tebu terintegrasi langsung dengan mesin utama dan memiliki kapasitas yang rendah.
"Dengan kata lain, semua hasil produksi seperti gula dan tetes tebu langsung keluar dari pabrik. Berhentinya serapan tetes tebu jadi kendala besar buat kami karena membuat proses produksi tidak berputar," ujarnya.
Hariyanto menjelaskan tetes tebu tidak bisa dibuang karena berdampak negatif pada lingkungan hidup. Sementara itu, penyimpanan tetes tebu harus menggunakan alat khusus mengingat karakternya yang dapat meledak jika ditangani dengan cara yang salah.
Produksi Sugar Co
Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendata Sugar Co memproduksi 512.555 ton gula pada Januari-Juli 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 41% dari total produksi tujuh bulan pertama tahun ini yang mencapai 1,24 juta ton.
Perpres No. 40 Tahun 2023 secara eksplisit memberikan Sugar Co tiga target, yakni peningkatan produktivitas tebu sebesar 87 ton per hektare, ekstensifikasi kebun tebu setidaknya 179.000 hektare, dan peningkatan rendemen gula menjadi 8,05%.
Hariyanto menilai pencapaian target tersebut berjalan lancar hingga tahun lalu lantaran harga gula tingkat petani menembus Rp 15.000 per kg. Angka tersebut lebih tinggi dari Harga Acuan Pembelian senilai Rp 14.500 per kg.
"Kami sudah cukup senang tahun lalu harga gula tingkat petani naik jadi lebih dari Rp 15.000 per kg. Namun kondisi saat ini akna menimbulkan koreksi perkembangan yang cukup dalam secara jangka panjang," ujarnya.
