Kemenperin Sebut BYD Mulai Produksi Mobil Listrik di Indonesia Tahun Depan
Kementerian Perindustrian menyatakan produsen mobil listrik asal Cina, PT BYD Motor Indonesia, ditargetkan memproduksi mobil listrik di Indonesia bulan depan. Konstruksi pabrik BYD di Subang Jawa Barat sudah mencapai 76% per 7 September 2025.
"Kemungkinan besar BYD mulai produksi di dalam negeri tahun depan," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta, kepada Katadata.co.id, Senin (15/9).
Setia mengatakan, baru satu dari 15 komitmen investasi mobil listrik berbasis baterai atau BEV yang akan memulai produksinya tahun depan. Sebelumnya, 15 produsen tersebut sudha berkomitmen untuk membuat pabrik mobil listrik di Indonesia setelah pemerintah memberikan insentif pajak dan bea masuk melalui Perpres No. 79 Tahun 2023.
"Produsen yang lain belum melaporkan realisasi investasinya," ujarnya.
Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mendata tambahan investasi tersebut akan membuat kapasitas produksi BEV nasional menjadi 374.000 unit per tahun. Adapun BYD berencana membangun pabrik BEV berkapasitas 150.000 unit per tahun dengan investasi Rp 11,26 triliun.
Pemerintah Tak Akan Perpanjang Insentif
Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Rachmat Kaimuddin, mengatakan pemerintah tidak akan memperpanjang insentif yang berakhir akhir 2025 tersebut.
Rachmat memaparkanimpor kendaraan listrik (EV) utuh atau completely built-up (CBU) melonjak tajam sejak pemerintah memberikan insentif peniadaan bea masuk dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah pada komoditas tersebut.
Impor EV pada 2024 mencapai lebih dari 18.000 unit, atau naik sekitar sembian kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Dia memprediksi volume impor EV CBU akan naik lebih dari 250% menjadi 65.000 unit pada tahun ini.
Dengan demikian, total penjualan EV pada tahun ini diprediksi mencapai 100.000 unit, dengan produksi lokal diperkirakan sekitar 35.000 unit.
Namun, Rachmat menekankan seluruh penjualan tersebut akan pindah ke dalam negeri mulai tahun depan. Sebab, pemerintah tidak akan memperpanjang insentif impor EV CBU pada tahun depan.
"Memang EV saat ini masih impor. Namun kami memberikan izin impor tersebut pada pelaku yang janji membangun pabrik EV di dalam negeri," katanya.
Maka dari itu, Rachmat menyampaikan kata kunci dalam peningkatan penggunaan EV di dalam negeri adalah produksi lokal. Rachmat mengakui volume impor EV secara utuh atau CBU melonjak selama beberapa tahun terakhir akibat insentif peniadaan bea masuk dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah pada EV.
