Imbas Kebocoran Pipa Minyak Vale, 30 Hektare Sawah Warga Towuti Gagal Panen
Pipa minyak milik PT Vale Indonesia mengalami kebocoran di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan pada Agustus lalu. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut insiden ini berdampak pada puluhan hektare lahan persawahan milik masyarakat.
“Terdampaknya ada 30 ha sawah gagal panen. Penanggulannya sudah dilakukan dengan mengisolasi (lahan),” kata Sudaryono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (16/9).
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, perusahaan disebut akan memberikan kompensasi kepada petani yang lahannya terdampak. Pemerintah akan melanjutkan koordinasi bersama pemerintah daerah terkait hal ini.
“Memastikan bahwa yang (sawahnya) terdampak mendapatkan haknya, itu yang paling utama. Kalau angkanya akan kami cek kembali, dipastikan semua orang senang (everybody happy),” ujarnya.
Sudaryono menekankan agar kompensasi segera diberikan karena saat ini sudah memasuki masa panen padi. “Harus sesegera mungkin, masyarakat sudah berharap mendapatkan uang lalu tiba-tiba gagal. Kalau prosesnya cepat, masyarakat senang dan kewajiban PT Vale juga cepat selesai,” ucapnya.
Komitmen Vale
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto memastikan keselamatan masyarakat dan pemulihan lingkungan menjadi prioritas utama.
“Fokus kami adalah menghentikan penyebaran aliran minyak. Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar penanganan berlangsung cepat dan tepat. Dengan semangat gotong royong, kami yakin dapat melewati situasi ini bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/8).
Selain menghentikan penyebaran minyak, Vale berkomitmen menjalankan pemulihan lingkungan secara menyeluruh. Upaya ini mencakup rehabilitasi ekosistem, dukungan sosial-ekonomi bagi masyarakat terdampak, serta evaluasi sistem keamanan pipa untuk mencegah insiden serupa.
Head of External Relations Vale Endra Kusuma menambahkan bahwa semua proses pemulihan akan dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Masih banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab sepenuhnya saat ini, namun kami berkomitmen menyampaikan perkembangan secara terbuka dan tepat waktu. Semua langkah berfokus pada keselamatan warga, pemulihan lingkungan, dan keberlanjutan masyarakat Towuti,” kata Endra.
