Isuzu Nilai Elektrifikasi Truk Belum Cocok di RI, Infrastruktur Jadi Kendala

Andi M. Arief
23 September 2025, 14:11
Isuzu
ANTARA FOTO/HO/Bes/YU
Peserta mengendarai All New Isuzu MU-X 4x4 menjelajah medan Offroad di Sirkuit Nirmala, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (11/5/2023). Astra Isuzu terus menggiatkan pengenalan produk dan after sales service yang hasilnya penjualan pada triwulan I 2023 mengalami kenaikan antara lain D-Max yang terjual 466 unit dari hanya 31 unit pada triwulan 1 2022, Mu-X terjual 57 unit dari 15 unit serta market share Astra Isuzu triwulan I tumbuh dari 3 persen ke 3,1 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Isuzu Astra Motor Indonesia menilai industri kendaraan komersial di dalam negeri masih belum membutuhkan program elektrifikasi. Menurut perusahaan, kunci utama keberhasilan program elektrifikasi truk adalah ketersediaan infrastruktur pendukung.

Communication Management Department Head Isuzu Astra, Puti Annisa Moeloek, menegaskan pihaknya siap mengembangkan kendaraan komersial berbasis listrik. Namun, langkah tersebut dinilai belum tepat dilakukan saat ini karena infrastruktur yang masih terbatas.

“Bagi kami, sepertinya belum saatnya program elektrifikasi kendaraan komersial di dalam negeri, sebab program tersebut membutuhkan keberadaan infrastruktur pendukung yang memadai,” kata Puti kepada Katadata.co.id, Selasa (23/9).

Puti menjelaskan, induk usaha Isuzu di Jepang telah mengembangkan penjualan truk elektrik. Namun, program itu berjalan seiring dengan penataan infrastruktur pendukung elektrifikasi kendaraan komersial.

Di sisi lain, Puti mempertanyakan keuntungan yang bisa diperoleh pelaku industri logistik dan transportasi dari elektrifikasi kendaraan komersial. Ia khawatir program tersebut justru kontraproduktif karena dapat mendorong kenaikan harga kendaraan komersial di pasar domestik.

“Kalau untuk kendaraan komersial, sepertinya kendaraan bermesin konvensional masih lebih cocok. Harganya juga masih sesuai dengan pasar domestik,” ujarnya.

Masih Terkonsentrasi di Pulau Jawa

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan menyampaikan pemerintah tengah mengkaji pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di luar Pulau Jawa. Hal ini penting lantaran adopsi kendaraan listrik saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya kawasan Jabodetabek.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK Rachmat Kaimuddin, mengatakan pihaknya berencana memperluas elektrifikasi ke berbagai jenis kendaraan lain, termasuk sepeda motor, bus, dan truk.

“Kebetulan kami membidangi bidang transportasi. Karena itu, kami bisa ikut berpartisipasi dalam mendukung infrastruktur yang dibutuhkan dalam program elektrifikasi transportasi,” ujarnya.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko mendorong pemerintah untuk menyiapkan sejumlah hal untuk menarik investor. Menurutnya, stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan menjadi faktor utama.

Selain itu, efisiensi pembangunan infrastruktur serta kepastian regulasi juga harus dijamin. “Kita saat ini tidak ada kepastian, mari kita kejar itu semua. Jadi ada sebuah kesempatan yang harus diambil,” kata Moeldoko.

Ia menilai peluang elektrifikasi di Indonesia masih terbuka lebar. Karena itu, kestabilan regulasi dan perencanaan jangka panjang harus menjadi fokus pemerintah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...