Indonesia Dinilai Masih Punya Tiga Kendala untuk jadi Pusat Rantai Pasok Global

Ameidyo Daud Nasution
3 Oktober 2025, 12:10
rantai pasok, industri, tkdn
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.
Truk yang membawa peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia disebut masih memiliki sejumlah tantangan untuk menjadi pusat rantai pasok dunia. Salah satunya adalah permasalahan sistem logistik yang dianggap belum terlalu efisien.

Hal ini disampaikan Managing Partner dari lembaga konsultasi Roland Berger Southeast Asia, John Low. Dia mengatakan, pembenahan masalah ini penting karena menurutnya investor masih mengeluhkan beberapa masalah terutama sistem logistik.

"Saya rasa infrastrukturnya sudah cukup mapan. Namun, masih ada beberapa tantangan dari sisi logistik," kata John Low dalam wawancara dengan Katadata di Kuala Lumpur, Malaysia pada pekan lalu.

Dari data Logistic Performance Index yang dirilis Bank Dunia pada 2023, ranking logistik Indonesia berada pada peringkat 61. Angka ini turun dari 45 pada 2018 lalu. 

Low mengatakan, perusahaan yang masuk Indonesia berharap sistem logistik di Indonesia bisa lebih efisien demi mengurangi biaya. Ia mengatakan pembenahan logistik bukan hanya membangun infrastruktur fisik, namun juga membenahi sistem.

"Masalah logistik bukan hanya (membangun) jalan," katanya.

Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low dalam diskusi di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (25/9).
Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low dalam diskusi di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (25/9). (Roland Berger)

Dalam pemaparan dengan awak media di Kuala Lumpur, Low juga sempat menyinggung keberadaan aturan konten lokal di Indonesia. Menurutnya, aturan tersebut berpotensi membuat rumit investasi.

Dari hasil studi yang dilakukan Roland Berger, beberapa kendala yang menjadi tantangan Indonesia adalah:

1. Kinerja logistik yang lemah (posisi 61 dunia)
2. Infrastruktur dan hambatan pelabuhan meningkatkan waktu tunggu
3. Aturan konten lokal yang rumit mempersulit integrasi

Meski demikian, menurut studi Roland Berger, Indonesia juga memiliki sejumlah keunggulan seperti:

1. Cadangan nikel yang melimpah untuk menopang rantai pasokan baterai kendaraan listrik
2. Meningkatnya permintaan pasar domestik mendukung produksi lokal
3. Posisi sebagai pusat sumber daya hulu bagi negara-negara ASEAN

John Low mengatakan hal yang penting adalah memastikan Indonesia, salah satu produsen nikel terbesar, bisa menciptakan ekosistem bagi seluruh rantai pasok komoditas tersebut.

"Idenya adalah naik ke rantai pasok dengan nilai lebih tinggi," katanya kepada Katadata.

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia juga telah merancang sejumlah kebijakan yang dianggap Roland Berger bisa memposisikan RI sebagai pusat rantai pasok. Beberapa di antaranya:

1. Strategi baterai nasional untuk melokalisasi rantai nilai baterai EV
2. Ekosistem logistik nasional untuk mengurangi biaya logistik sebesar 6% PDB
3. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk insentif investasi industri

Industri pengolahan sumbang kenaikan nilai ekspor
Industri pengolahan sumbang kenaikan nilai ekspor (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/rwa.)

Low juga berharap perusahaan hingga pemerintah bisa menggenjot riset dan pengembangan. Hal ini karena riset bisa membantu Indonesia meningkatkan nilai komoditas di masa depan.

"Jangan hanya menjadi pemasok bahan baku. Tingkatkan rantai nilai dan minta perusahaan yang datang ke Indonesia untuk memiliki komponen R&D," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...