Kementan Bidik Hilirisasi Kelapa, Gambir dan Sawit, Siapkan Anggaran Rp 9,5 T

Muhamad Fajar Riyandanu
9 Oktober 2025, 20:02
Sawit
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/agr
Petani memanen buah kelapa sawit di Nagari Ketaping, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (15/4/2025). .
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah berencana memperkuat hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan guna mengerek nilai tambah jual dan devisa negara. Sejumlah komoditas unggulan yang diprioritaskan yakni Kelapa, Gambir dan Sawit.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan volume ekspor kelapa mencapai 2,8 juta ton per tahun dengan nilai sekitar Rp 24 triliun. Pemerintah berencana menggenjot olahan kelapa menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti santan atau coconut milk dan minyak kelapa murni (virgin coconut oil).

“Nilainya bisa naik 100 kali lipat. Rata-rata bisa menghasilkan Rp 2.400 triliun. Katakanlah separuh saja dikali 50 bisa menghasilkan Rp 1.200 triliun devisa. Itu baru kelapa,” kata Amran dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (9/10).

Selain kelapa, pemerintah juga menargetkan hilirisasi pada komoditas gambir. Menurut Amran, Indonesia memasok 80% kebutuhan dunia. Produk ini dapat diolah menjadi tinta pemilu, bahan campuran sirih, hingga sampo. 

Amran melanjutkan bahwa pemerintah ingin seluruh bahan baku ekspor, termasuk crude palm oil (CPO) dapat diolah di dalam negeri.

“Khusus yang dikuasai pemerintah, seperti sawit kita hilirisasi dari tandan buah segar menjadi fame atau biofuel, minyak goreng, margarin atau mentega. Nilai tambahnya harus ada di Indonesia,” ujar Amran.

Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan tambahan anggaran senilai Rp 9,95 triliun untuk mempercepat proyek hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan.

Dana tersebut akan digunakan untuk penyediaan bibit dan benih bagi petani yang mencakup komoditas kakao, kopi, kelapa dalam, mete, dan pala di lahan seluas 800 ribu hektare. “Hal ini akan membuka lapangan kerja 1,6 juta orang dalam waktu paling lambat 2 tahun,” kata Amran.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...