Mendag Bidik Timur Tengah dan Amerika Latin untuk Perluas Pasar Ekspor 2026

Andi M. Arief
15 Oktober 2025, 16:17
ekspor
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/rwa.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan sambutan saat pelepasan ekspor produk susu PT Frisian Flag Indonesia di kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (30/9/2025). Mendag melepas ekspor produk olahan susu yang terdiri dari susu bubuk dan susu kental manis produksi PT Frisian Flag Indonesia senilai Rp1,7 miliar ke Filipina dan Malaysia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Perdagangan Budi Santoso berencana memperluas pasar ekspor pada 2026. Dua kawasan utama yang diincar untuk pengembangan pasar ekspor tahun depan, yakni Timur Tengah dan Amerika Latin.

Pemerintah telah melakukan penjajakan awal perjanjian kawasan perdagangan bebas (FTA) di Timur Tengah dengan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta perjanjian multilateral dengan organisasi Mercosur di Amerika Latin atau Mercosur.

Sebagai informasi, Mercosur merupakan organisasi ekonomi dan politik yang beranggotakan Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay. Hingga kini, Indonesia baru memiliki perjanjian dagang dengan dua negara di Amerika Selatan, yaitu Peru dan Chile.

Strategi tersebut dipilih untuk menjaga momentum surplus neraca perdagangan yang telah terjadi sejak Mei 2020.

Budi mencatat nilai ekspor selama Januari–Agustus 2025 naik 7,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari US$ 171,86 miliar menjadi US$ 185,12 miliar. Sementara surplus neraca perdagangan tumbuh lebih tinggi, yakni 53,3% menjadi US$ 29,14 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga negara yang menopang surplus neraca perdagangan adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina. Ketiganya menyumbang lebih dari 94% dari total surplus neraca dagang, dengan nilai mencapai US$ 27,48 miliar.

“Dengan demikian, surplus neraca perdagangan nasional tercatat terjadi selama 64 bulan berturut-turut. Capaian kinerja ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% hingga 2029,” ujar Budi dalam Trade Expo Indonesia 2025, Rabu (15/10).

Budi menjelaskan, performa ekspor pada delapan bulan pertama tahun ini baru memanfaatkan 20 perjanjian dagang yang telah berlaku. Karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan kinerja ekspor nasional pada tahun depan melalui penyelesaian negosiasi sejumlah perjanjian dagang baru.

Saat ini, pemerintah sedang merampungkan ratifikasi terhadap 10 perjanjian dagang dan merundingkan 16 perjanjian lainnya. Dari jumlah tersebut, empat perundingan telah selesai pada Agustus 2025, yakni Indonesia–Peru CEPA, Indonesia–Canada CEPA, Indonesia–Eurasia CEPA, dan Indonesia–Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).

“Rangkaian penyelesaian perundingan ini menandai babak baru ekspor nasional ke beberapa kawasan penting dunia, yaitu Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, hingga Afrika,” kata Budi.

Incar Pasar Afrika

Sebelumnya Budi mengatakan bahwa pemerintah mengincar pasar Afrika melalui Afrika Selatan. Menurut Budi, negara-negara di Afrika menginginkan perjanjian dagang dalam skala kawasan, yang cenderung membutuhkan waktu panjang.

Ia menyampaikan bahwa Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko Bris Witjaksono, telah bertemu dengan delegasi dari Afrika Selatan yang menyatakan kesiapan untuk memulai perundingan perjanjian dagang.

“Mudah-mudahan negosiasi ini dapat memancing minat negara-negara Afrika lainnya,” ujar Budi di kantornya, Senin (29/9).

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor ke Benua Afrika terus tumbuh sejak 2005 hingga 2022, dengan nilai tertinggi pada 2022 mencapai US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp118,13 triliun. Namun, pada 2024 nilai ekspor ke kawasan tersebut tercatat turun 7,84% secara tahunan menjadi US$ 6,34 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...